<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8116568878883160549</id><updated>2011-08-01T13:41:59.446-07:00</updated><title type='text'>aku dan dunia-ku</title><subtitle type='html'>Selamat Datang di blog "Aku dan Dunia-Ku</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sulfialhamdi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116568878883160549/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sulfialhamdi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sulfi Alhamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05320416413072617215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QYxieORgQf0/SGnDUrgJiTI/AAAAAAAAAAs/TI_PTLZOp6Q/S220/IMG_6690.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8116568878883160549.post-6580043731585335123</id><published>2009-07-29T03:26:00.000-07:00</published><updated>2009-07-29T03:28:06.136-07:00</updated><title type='text'>TERAPI BERNYANYI II</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:6;"&gt;TERAPI BERNYANYI: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:6;"&gt;MENGGAIRAHKAN KREATIVITAS BERBAHASA INSAN AUTIS &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:6;"&gt;(ANTARA ORANGTUA DAN ANAK)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:6;"&gt;(&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sulfi Alhamdi&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Insan autis adalah insan yang sangat istimewa. Mereka dengan segala keterbatasan dan permasalahannya tidak dapat dilepaskan dari kehidupan kita. Mereka adalah bagian dari kita. Berbagai upaya akan dimaksimalkan bagi kebutuhan perkembangan dan pendidikan mereka.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Orangtua adalah orang yang terdekat dengan anak. Sebaiknya orangtua, ayah-ibu, mempunyai waktu yang lebih banyak dibandingkan dengan orang lain. Koneksi perasaan antara orangtua dan anak&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;akan lebih terjalin dengan baik. Proses komunikasi akan tercipta dan berjalan secara alami. Ini adalah modal dasar untuk melakukan kegiatan bernyanyi ini. Kegiatan ini dapat dilakukan secara berkesinambungan sehingga akan menjadi salah satu alternatif terapi bagi anak.&lt;span&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Terapi bernyanyi adalah salah satu kegiatan yang dapat dilakukan bersama insan autis. Terapi bernyanyi ini dapat diberikan kapan saja, di mana saja dan oleh siapa saja; orangtua, guru/&lt;em&gt;therapist&lt;/em&gt;, orang yang dekat dengan insan autis. Terapi benyanyi ini dapat diberikan kepada seluruh insan autis, meskipun mereka memiliki perbedaan manifestasi gangguan yang berbeda-beda. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; orangtua tidak perlu khawatir dengan kondisi sang anak. Selain tujuan tertentu yang ingin dicapai, kegiatan ini secara umum adalah kegiatan yang menyenangkan, terutama bagi anak. Bernyanyi dapat menciptakan situasi yang nyaman, meningkatkan rasa percaya diri anak karena ia dapat menyanyikan lagu tertentu, memudahkan orangtua mengamati perkembangan anak terutama kemampuan verbal dan daya tangkapnya. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Lagu apa sajakah yang dapat kita nyanyikan bersama mereka?&lt;/em&gt; Pada dasarnya semua lagu dapat dinyanyikan bersama si anak. Jika ternyata anak menyukai sebuah lagu, baik yang ia nyanyikan langsung atau sekedar bersenandung, maka cobalah untuk mencari tahu dan memahami lagu tersebut. Biasanya anak lebih cenderung menyanyikan lagu tersebut sendiri/tanpa diminta. Pada waktu tertentu mintalah ia untuk menyanyikan lagu tersebut dan bernyanyilah bersama sang anak. Akan tetapi harus dipastikan bahwa kegiatan bernyanyi tersebut adalah kegiatan yang menyenangkan, sehingga mereka tidak merasa terbebani.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Untuk mencapai tujuan tertentu, cobalah untuk memahami lagu tersebut secara khusus. Seperti dengan memahami tema dan lirik lagu tersebut. Kemudian tentukan kosakata pilihan yang sesuai dengan tema lagu. Misalnya lagu “Naik-naik ke Puncak Gunung.” (yang juga dijadikan sebagai lagu untuk salah satu produk iklan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;di televisi). Pada bagian lagu tersebut terdapat kalimat “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;kiri kanan,&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; ku lihat saja, banyak pohon cemara&lt;/em&gt;.” Kata &lt;em&gt;kiri&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;kanan&lt;/em&gt; diambil sebagi kosakata pilihan. Berikanlah pemahaman tentang konsep kiri dan kanan tersebut. Misalnya tentang tangan kiri dan kanan, telinga kiri dan kanan, atau orang yang duduk di sisi kiri dan kanan pada saat kegiatan tersebut berlangsung. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Kosakata dalam lagu tersebut juga dapat disesuaikan dengan keadaan sekitar, tidak harus kaku sesuai dengan lirik lagu aslinya . “&lt;em&gt;Kiri kanan, kulihat saja, ada Mama dan Papa&lt;/em&gt;” atau apa saja. Kegiatan ini harus dilakukan secara berkesinambungan. Orangtua harus jeli melihat kondisi anak, jangan sampai ia jenuh yang mengakibatkan hal yang tak terduga, seperti mengamuk, menangis atau reaksi lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Usahakan sampai sang anak benar-benar memahami makna kosakata-kosakata yang telah kita tentukan sebelumnya. Kemudian&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;barulah melakukan penambahan kosakata dengan tema yang lain. Proses ini secara tidak langsung telah mengikat orangtua dan anak dalam kegiatan interaksi dan komunikasi. Akhirilah kegiatan ini dengan memberikan &lt;em&gt;reward/&lt;/em&gt;penghargaan padanya berupa tepuk tangan, ciuman, atau kata-kata sanjungan dll.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Bagaimana kalau sani anak menyukai lagu-lagu yang sedang hit saat ini?&lt;/em&gt; Tentu saja ini akan lebih baik. Karena dapat dipastikan bahwa anak memiliki tingkat kecerdasan yang lebih. Mintalah anak untuk menyanyikan lagu tersebut. Berikan kesempatan pada anak untuk berekspresi semaksimal mungkin (layaknya seorang penyanyi professional). &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Perhatikanlah aksinya dalam menyanyikan lagu tersebut. Catat poin-poin yang perlu untuk dikoreksi; pelafalan, pemaknaan kosakata, kosakata yang dimodifikasi dan yang hal lain yang tak terduga. Ajak anak berkomunikasi tentang catatan koreksian tersebut; memberikan contoh pengucapan kosakata yang benar, penekanan makna pada kosakata tertentu, pemilihan kosakata pengganti yang tepat, ekspresi untuk memaknai kosakata tertentu.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Kemampuan lebih sebagai orangtua juga akan dituntut untuk menjadikan kegiatan ini sebagai sesuatu hal yang sangat berarti. Anak tidak hanya akan memahami kosakata pilihan, tetapi lebih dari itu, anak akan dikenalkan dengan phrasa atau kalimat dalam lirik lagu tersebut. Perhatikan minat sang anak. Jangan pernah memaksakan sesuatu, jika hal tersebut memiliki kecenderungan untuk menimbulkan perilaku negatifnya. Dan jangan lupa, akhirilah kegiatan ini dengan sebuah reward. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Bagaimana kalau anak tidak bisa bernyanyi?&lt;/em&gt; Tiap-tiap anak memiliki respon yang berbeda terhadap input sensori. Memahami respon, mengobservasi kelebihan dan kekurangan anak&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;menjadi sangat penting karena hal tersebut dapat membantu orangtua dalam menentukan aktivitas yang diminati dan dinikmati anak. Orangtua dapat memulai kegiatan ini dengan bernyanyi sendiri sembari mencoba mencuri perhatian anak. Lakukan hal tersebut berulang-ulang. Apabila lagu tersebut tidak mendapat respon, mungkin harus mencari lagu yang lain sehingga dapat menarik perhatian si buah hati.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Respon anak adalah hal yang sangat penting. Jika ia belum bisa dengan bahasa verbal, tuntun anak dengan bahasa non verbal. “ Satu-satu, aku sayang ibu, …” Tentukan tema yang akan difokuskan. Misalnya tema berhitung, &lt;em&gt;satu-satu, dua-dua, tiga-tiga, satu-dua-tiga.&lt;/em&gt; Gunakan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;jari sebagai alat peraga untuk menuntun pemahaman non-verbal anak. Lakukan kegiatan ini secara berkesinambungan sebelum membahas tema yang lain. Dan jangan lupa, akhirilah kegiatan ini dengan sebuah reward. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Terapi bernyanyi ini juga dapat dilakukan dengan menggunakan lagu-lagu kreasi sendiri. Orangtua dapat menciptakan lagu yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Atau dapat mengganti lirik lagu yang sudah ada. Misalnya lagu &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Are You Sleeping”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, dengan mengubah lirik lagu tersebut menjadi tema berhitung; &lt;strong&gt;&lt;em&gt;one two three four, one two three four, five and six, five and six, seven eight and nine ten, seven eight and nine ten, very good, very good&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Kegiatan terapi bernyanyi ini tidak harus kaku, lagu-lagu yang disenangi anak dapat diperdengarkan secara utuh dengan musik pengiringnya. Orangtua dapat memperdengarkan album lagu-lagu anak atau lagu-lagu yang mereka sukai. Ciptakan suasana gembira. Ikutlah bernyanyi dan bergembira bersama mereka. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8116568878883160549-6580043731585335123?l=sulfialhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sulfialhamdi.blogspot.com/feeds/6580043731585335123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8116568878883160549&amp;postID=6580043731585335123' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116568878883160549/posts/default/6580043731585335123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116568878883160549/posts/default/6580043731585335123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sulfialhamdi.blogspot.com/2009/07/terapi-bernyanyi-ii.html' title='TERAPI BERNYANYI II'/><author><name>Sulfi Alhamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05320416413072617215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QYxieORgQf0/SGnDUrgJiTI/AAAAAAAAAAs/TI_PTLZOp6Q/S220/IMG_6690.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8116568878883160549.post-6470943555446548104</id><published>2009-07-29T03:25:00.000-07:00</published><updated>2009-07-29T03:26:46.606-07:00</updated><title type='text'>Terapi Bernyanyi I</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:6;"&gt;Terapi Bernyanyi: Menggairahkan Kreativitas Berbahasa Insan Autis&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:6;"&gt;(Program Terapi di Sekolah Khusus Autis )&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:6;"&gt;Oleh: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sulfi Alhamdi &lt;/span&gt;&lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt; &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Mengantarkan anak ke sekolah/klinik terapi khusus insan autis adalah solusi utama bagi para orangtua yang memiliki anak istemewa untuk pendidikan si buah hati. Saat ini, kita dengan mudah dapat menemukan sekolah/klinik terapi khusus tersebut. Masing-masing tempat menawarkan program/metode terapi yang bervariasi; terapi wicara, okupasi, sensori integrasi, musik dan lain-lain. Keseluruhan metode tersebut pada intinya merupakan usaha dalam upaya penyembuhan sang anak. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Kegiatan bernyanyi (terapi bernyanyi) merupakan salah satu alternatif terapi bagi insan autis. Terapi ini belum dikenal secara luas. Terapi bernyanyi ini dapat disetarakan dengan terapi musik atau terapi-terapi lainnya. Sejauh ini bernyanyi hanya diberikan sebagai kegiatan selingan para guru/terapis ketika bersama dengan sang anak. Dengan melakukan kegiatan ini secara intensif dan berkesinambungan maka kegiatan ini akan menjadi &lt;em&gt;treatment&lt;/em&gt; khusus mengacu kepada terapi tersendiri.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Terapi bernyanyi adalah kegiatan bernyanyi, baik yang diiringi musik maupun tidak, untuk melatih pemahaman anak terhadap diri dan lingkungannya. Terapi ini akan mengantarkan anak pada kondisi emosi yang positif. Anak dapat berinteraksi verbal maupun non verbal dengan lingkungan atau orang yang berada disekitarnya. Motorik halus dan kasar akan terlatih dengan melakukan gerakan-gerakan yang berpedoman pada lirik lagu yang sedang dinyanyikan. Terapi ini akan menjadi lebih efektif dan produktif karena lebih mengarah ke suatu permainan yang menyenangkan.&lt;span&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Guru/terapis memegang peranan utama bagi pendidikan sang anak saat berada di sekolah. Semua guru/terapis yang ada di sekolah dapat melaksanakan terapi bernyanyi ini, meskipun pada dasarnya mereka telah memiliki keahlian khusus masing-masing. Hal utama yang harus diperhatikan bahwa terapi ini bertujuan untuk mengajak anak bergembira sembari mempersiapkan pencapaian tujuan khusus yaitu menggairahkan kreativitas berbahasa, baik verbal maupun non verbal sang anak. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Terapi bernyanyi dapat dilaksanakan dengan &lt;em&gt;Metode Kelas Bersama&lt;/em&gt;. Metode ini menggabungkan seluruh anak dan didampingi oleh masing-masing guru/terapis mereka. Tidak seperti halnya terapi yang lain, satu orang anak dengan satu orang guru/terapis. Kemudian satu orang guru/terapis yang bertindak sebagai pemandu terapi ini. Siapa pun dapat berperan sebagai guru/terapis pemandu. Seorang&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;pemandu juga ditemani oleh seorang guru yang dapat memainkan alat musik (organ/keyboard) yang akan mengiringi anak-anak bernyanyi. Terapi ini diberikan selama 15-20 menit setiap hari. Sebaiknya diberikan sebagai kegiatan awal sebelum melaksanakan rutinitas terapi-terapi lainnya. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Terapi bernyanyi dapat diberikan terhadap seluruh anak autis, meskipun masing-masing mereka memiliki respon yang berbeda terhadap input sensori. Akan tetapi dalam kondisi tertentu dibutuhkan peran guru/terapis pendamping untuk memahami kondisi anak pada saat terapi berlangsung. Jangan memaksa anak untuk mengikuti kegiatan ini apabila ada kecenderungan anak untuk berprilaku negatif. Sebuah penelitian mengatakan bahwa penyandang autisme memiliki &lt;st1:place st="on"&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kognisi yang berbeda, pada dasarnya berarti bahwa, otak mereka memproses informasi dengan cara berbeda. Mereka mendengar, melihat dan merasa, tetapi otak mereka memperlakukan informasi ini dengan cara yang berbeda. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;           &lt;/span&gt;Musik dan lirik lagu diperkenalkan secara bersamaan kepada mereka. Musik pengiring dapat menciptakan suasana yang membuat mereka merasa nyaman. Bahkan musik (&lt;em&gt;introlude&lt;/em&gt; lagu) membantu anak menerka lagu apa gerangan yang akan dimainkan. Kata-kata atau lirik lagu diharapkan mampu merangsang kognitif mereka, sehingga mereka memberikan respon positif setiap lagu yang dinyanyikan. Kegiatan itu akan berlanjut kepada rangsangan motorik mereka dengan memaknai kata-kata melalui gerakan-gerakan tertentu sesuai dengan lagu yang sedang dinyanyikan. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Lagu-lagu yang digunakan dalam terapi bernyanyi ini sebaiknya lagu-lagu anak yang memiliki tema yang jelas. Tema lagu biasanya akan terlihat dari kata-kata yang ada dalam lirik lagu tersebut. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; guru/terapis harus menentukan tema lagu yang akan dinyanyikan. Karena terkadang ada kemungkinan lagu tersebut memiliki lebih dari satu tema. Misalnya lagu &lt;em&gt;Satu-satu Aku Sayang Ibu&lt;/em&gt;. Lagu ini memiliki lebih dari satu tema yaitu &lt;em&gt;tema angka/berhitung&lt;/em&gt; –satu, dua, tiga- dan &lt;em&gt;tema keluarga&lt;/em&gt; –aku, ibu, ayah, adik, kakak. Ketika tema berhitung menjadi pilihan, maka anak akan diajarkan tentang konsep berhitung/angka atau sebaliknya. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Dalam penerapan terapi bernyanyi, lagu-lagu yang dipakai sebagai lagu terapi dapat dibagi atas tiga kategori lagu; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;1) &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;Kategori A&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;: Lagu&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;yang menonjolkan aspek kognitif perorangan. Lagu ini lebih fokus untuk melatih pemahaman anak secara individu dibantu oleh guru/terapis pendamping tentang kata-kata yang ada dalam lagu tersebut. Anak diharapkan bisa merespon secara verbal ataupun non-verbal. Lagu ini tidak banyak memberikan dorongan interaksi dengan insan autis yang lainnya(&lt;em&gt; dua mata saya, topi saya budar, satu-satu aku sayang ibu&lt;/em&gt;&lt;span&gt;).&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;2) &lt;em&gt;Kategori B&lt;/em&gt;: Lagu yang menonjolkan aspek interaksi, kebersamaan. Kata-kata dalam lirik lagu lebih banyak menuntun anak untuk berinteraksi dengan teman di sekitarnya. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan satu lagu bisa memenuhi kriteria kedua jenis lagu tesebut. Hal ini tergantung kepada tema lagu yang dipilih pada saat itu (&lt;em&gt;lingkaran kecil, ular naga&lt;/em&gt;) . &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;3) &lt;em&gt;Kategori C&lt;/em&gt;: Lagu yang dipilih karena jenis lagu tersebut dapat menciptakan suasana gembira. Kata-kata dalam lirik lagu tidak lagi menjadi fokus. Anak didampingi guru/terapis bergembira bersama mengikuti irama musik (&lt;em&gt;cantik siapa yang punya,&lt;/em&gt; &lt;em&gt;aku punya anjing kecil&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;becak&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;cicak&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;naik&lt;/em&gt; &lt;em&gt;delman&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;burung&lt;/em&gt;&lt;em&gt; kakaktua&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;naik&lt;/em&gt; &lt;em&gt;kereta api&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;naik ke puncak gunung&lt;/em&gt;&lt;span&gt;)&lt;/span&gt;. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Untuk mencapai tujuan maksimal dari terapi bernyanyi ini dibutuhkan kreativitas guru dalam mencari lagu-lagu dan menentukan kategori lagu tersebut. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; guru/terapis pun dapat mengubah lirik lagu yang ada dan disesuaikan dengan kebutuhan anak berdasarkan tiga kategori lagu untuk terapi. Selain itu guru/terapi&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;memiliki kesempatan untuk menuangkan idenya dengan menciptakan lagu khusus untuk terapi ini. Tentu saja ini bukanlah hal yang mudah.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Terapi bernyanyi ini juga dapat diberikan kepada anak sebagai kegiatan bernyanyi selingan ketika melaksanakan terapi yang lain. Pilihan lagu dapat disesuaikan dengan kegiatan terapi yang sedang berlangsug pada saat itu. Tentu saja tidak sampai mengganggu program terapi yang sedang diberikan kepada anak.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Terapi bernyanyi tidak hanya dapat dilaksanakan di sekolah. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; orangtua pun dapat melaksanakan program ini bersama anak tersayang. Hubungan antara guru/terapis dan orangtua dijalin dengan baik. Guru/terapis dan orangtua dapat saling berbagi cerita tentang lagu-lagu yang disukai oleh anak.  &lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8116568878883160549-6470943555446548104?l=sulfialhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sulfialhamdi.blogspot.com/feeds/6470943555446548104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8116568878883160549&amp;postID=6470943555446548104' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116568878883160549/posts/default/6470943555446548104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116568878883160549/posts/default/6470943555446548104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sulfialhamdi.blogspot.com/2009/07/terapi-bernyanyi-i.html' title='Terapi Bernyanyi I'/><author><name>Sulfi Alhamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05320416413072617215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QYxieORgQf0/SGnDUrgJiTI/AAAAAAAAAAs/TI_PTLZOp6Q/S220/IMG_6690.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8116568878883160549.post-879813972732286161</id><published>2009-07-29T03:24:00.000-07:00</published><updated>2009-07-29T03:25:33.812-07:00</updated><title type='text'>Mari Bernyanyi dengan Insan Autis</title><content type='html'>&lt;h1 align="center"&gt;Mari Bernyanyi dengan Insan Autis &lt;/h1&gt; &lt;h1 align="center"&gt;(Bagi Para Orangtua - 4)&lt;/h1&gt; &lt;h2 align="center"&gt;Oleh: Sulfi Alhamdi&lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;&lt;/b&gt; &lt;/h2&gt; &lt;blockquote&gt; &lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Topi saya bundar&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Bundar topi saya&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kalau tidak bundar&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Bukan topi saya&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt; &lt;p align="justify"&gt;Lagu yang sederhana, dan … siapa sih yang tidak bisa menyanyikan lagu tersebut. Mari Bapak dan Ibu, kita ajak&lt;em&gt; buah hati &lt;/em&gt;kita bernyanyi bersama. Topi saya bundar,Bundar topi saya, Kalau tidak bundar, Bukan topi saya. Mari kita jadikan lagu &lt;em&gt;Topi Saya Bundar&lt;/em&gt;, bukan hanya sekedar lagu anak-anak yang gampang dihafalkan, akan tetapi merupakan lagu yang penuh arti yang dapat mengikat hati kita dengan buah hati.&lt;br /&gt;Pak,… Buk,…. paling tidak ketika menyanyikan lagu ini, ada sebuah topi untuk membantu anak memahami konsep topi. Mungkin tidak harus bundar. Karena kita bisa mengabaikan kata bundar dalam lirik lagu tersebut.&lt;strong&gt;&lt;em&gt; Topi&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, sambil memegang topi yang ada di atas kepala, &lt;strong&gt;&lt;em&gt; saya &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(Meletakkan kedua telapak tangan di dada untuk memvisualkan kata ‘saya’. Kemudian bantu anak untuk meletakkan kedua tangannya di dadanya),&lt;strong&gt;&lt;em&gt; bundar&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (membuka kedua tangan selebarnya ke arah samping, dari atas ke bawah yang memvisualkan kata ‘bundar’). Demikian seterusnya, karena kata-kata dalam lirik lagu tersebut diulangi beberapa kali. Sedangkan untuk kata &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kalau tidak&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (menggerakkan salah satu tangan  ke kiri dan ke kanan dengan satu jari telunjuk menghadap ke atas sambil menggelengkan kepala untuk memvisualisasikan phrasa ‘kalau tidak’). Untuk kata &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Bukan &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(dengan membuka seluruh jari salah satu tangan di depan dada dengan posisi menghadap ke atas sambil digoyangkan ke kiri dan ke kanan untuk memvisualisasikan kata ‘bukan’.)&lt;br /&gt;            Wow… ternyata sulit juga menguraikan gerakan satu lagu. Yang penting Bapak dan Ibu tetap bersemangat. Kegiatan ini bisa dilakukan berulang-ulang dengan sesering mungkin, sampai kita yakin anak telah terbiasa degan lagu ini. Setelah itu kita mulai mempersiapkan lagu berikutnya. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8116568878883160549-879813972732286161?l=sulfialhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sulfialhamdi.blogspot.com/feeds/879813972732286161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8116568878883160549&amp;postID=879813972732286161' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116568878883160549/posts/default/879813972732286161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116568878883160549/posts/default/879813972732286161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sulfialhamdi.blogspot.com/2009/07/mari-bernyanyi-dengan-insan-autis.html' title='Mari Bernyanyi dengan Insan Autis'/><author><name>Sulfi Alhamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05320416413072617215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QYxieORgQf0/SGnDUrgJiTI/AAAAAAAAAAs/TI_PTLZOp6Q/S220/IMG_6690.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8116568878883160549.post-7514386498593458435</id><published>2009-07-29T03:23:00.000-07:00</published><updated>2009-07-29T03:24:15.740-07:00</updated><title type='text'>Bernyanyi Bersama Insan Autis III</title><content type='html'>&lt;h1 align="center"&gt;Bernyanyi Bersama Insan Autis&lt;br /&gt;(Bagi Para Orangtua - 3)&lt;/h1&gt; &lt;h2 align="center"&gt;Oleh: Sulfi Alhamdi&lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;&lt;/b&gt; &lt;/h2&gt;  &lt;p align="left"&gt;&lt;em&gt;Pada hari Minggu, ku turut ayah ke kota.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Naik delman istimewa, ku duduk di muka, …&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="left"&gt;&lt;em&gt;Ku pandang lagit penuh bintang bertaburan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Berkelap kelip seumpama bintang berlian,…&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="left"&gt;&lt;em&gt;Ambilkan bulan bu,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ambilkan bulan bu,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yang selalu bersinar …&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; Dan masih banyak lagu lainnya yang sering kita nyanyikan untuk mereka anak-anak kita. Tapi sadarkah kita, bahwa mereka sangat sulit untuk memahami lagu tersebut. Bagaimana Bapak dan Ibu memberitahukan mereka tentang makna dari semua kata-kata yang terangkai dalam kalimat dalam lirik lagu tersebut? Apa itu &lt;em&gt;Pada hari Minggu&lt;/em&gt;?. Apa bedanya dengan hari yang lain? &lt;em&gt;Ke Kota&lt;/em&gt; mana hendak dituju? Dan masih banyak pertanyaan lainnya.&lt;br /&gt;            Anak yang ada di hadapan kita, adalah anak yang luar biasa. Mereka butuh perhatian penuh dari kita. Mereka butuh segalanya. Seandainya mereka seperti kakak atau adiknya yang bisa memahami lagu dengan begitu mudah, mungkin masalah tidak akan pernah muncul.&lt;br /&gt;           &lt;em&gt; Bernyanyi &lt;/em&gt;hanya salah satu solusi untuk menghadapi hari-hari yang membosankan dengan anak kita (jangan marah ya Pak, Bu,…). Kebosanan dan kejenuhan adalah hal yang manusiawi. Saya pribadi juga tidak mengatakan bahwa dengan cara bernyanyi semua masalah teratasi. Paling tidak saya memberikan satu solusi yang bisa dilakukan semua orang (di lingkungan anak kita), dan bisa kapan dan dimana saja. (tapi jangan dipaksakan ya Pak, Bu…)&lt;br /&gt;            Saya juga yakin, Bapak dan Ibu pernah mengajak &lt;em&gt;si buah hati&lt;/em&gt; bernyanyi bersama sambil bercengkrama. Coba kilas balik lagi pengalaman itu! Bermanfaat bukan? Ya… pasti, saya yakin. Lalu, apakah pernah megajarkan anak tentang makna kata-kata dalam lirik lagu tersebut?  Bagaiamana reaksi mereka ketika Bapak dan Ibu berkomunikasi melalui lagu? Alhamdulillah. Ternyata sudah dilakukan.&lt;br /&gt;            Berdasarkan pegalaman berada di antara insan&lt;em&gt; autis&lt;/em&gt;, saya juga menyadari bahwa tidak semua anak bisa kita ajak berkomunikasi melalui pelajaran bernyanyi. Semua tergantung pada karakter anak (tingkat autis si anak) . akan tetapi saya salalu berusaha untuk mengajak mereka berkomunikasi dengan lagu dengan bantuan para &lt;em&gt;therapist&lt;/em&gt; yang lain.&lt;br /&gt;Saya ingin forum ini menjadi wahana untuk bertukar lagu diantara kita. Untuk bertukar yang lain, mungkin di forum yang lain pula. Mungkin di antara anda yang sempat singgah di sini adalah seorang &lt;em&gt;therapist&lt;/em&gt;, guru, atau orang yang dekat dengan insan autis, anda punya pengalaman tentang mengajak mereka bernyanyi, mari kita bertukar pengalaman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8116568878883160549-7514386498593458435?l=sulfialhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sulfialhamdi.blogspot.com/feeds/7514386498593458435/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8116568878883160549&amp;postID=7514386498593458435' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116568878883160549/posts/default/7514386498593458435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116568878883160549/posts/default/7514386498593458435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sulfialhamdi.blogspot.com/2009/07/bernyanyi-bersama-insan-autis-iii.html' title='Bernyanyi Bersama Insan Autis III'/><author><name>Sulfi Alhamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05320416413072617215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QYxieORgQf0/SGnDUrgJiTI/AAAAAAAAAAs/TI_PTLZOp6Q/S220/IMG_6690.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8116568878883160549.post-6728736195135505987</id><published>2009-07-29T03:21:00.000-07:00</published><updated>2009-07-29T03:22:56.994-07:00</updated><title type='text'>Bernyanyi Bersama Insan Autis II</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt; &lt;h1 align="center"&gt;Bernyanyi Bersama Insan Autis&lt;br /&gt;(bagi para orangtua - 2)&lt;/h1&gt; &lt;h2 align="center"&gt;Oleh: Sulfi Alhamdi&lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;&lt;/b&gt; &lt;/h2&gt; &lt;p align="center"&gt;Hari semakin hari terkadang semakin terasa berat dan lama. Hilangkan kesedihan dengan &lt;em&gt;bernyanyi. &lt;/em&gt;Pecahkan suasana kaku dengan si buah hati dengan bernyanyi. Hibur kepenatan jiwa dan raga dengan &lt;em&gt;berkomunikas&lt;/em&gt;i melalui lagu.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Pengobatan atau &lt;em&gt;terapi &lt;/em&gt;untuk insan &lt;em&gt;autis &lt;/em&gt;adalah kegiatan yang harus berkelanjutan. Proses tersebut bukan hanya saat mereka berada di klinik, tetapi di mana saja mereka berada. Selain itu butuh waktu yang lama untuk sampai kepada tahap penyembuhan. Bahkan kita juga harus bersiap, bahwa pengobatan itu akan berlanjut seumur hidup mereka. (saya tidak bermaksud untuk menakut-nakuti ho!)&lt;br /&gt;            Pada tulisan sebelumnya saya mengusulkan salah satu bentuk kegiatan yang diharapkan mampu untuk membantu mereka adalah pelajaran bernyanyi, atau bapak ibu juga boleh menyebutnya kegiatan beryanyi. Karena kalau dengan anda, hubungannya bukanlah antara guru dan murid lagi.&lt;br /&gt;            Kegiatan ini bisa dilakukan di mana saja, misalnya di rumah, atau dalam perjalanan. Seperti halnya saat di sekolah, orangtua atau siapa saja yang mengajak mereka bernyanyi, harus memahami lagu tersebut; tema dan konsep lagu. Supaya bernyanyi bukan hanya sekedar bernyanyi, tetapi juga dapat berinteraksi dan bekomunikasi dengan anak melalui kata-kata yang ada dalam &lt;em&gt;lirik lagu&lt;/em&gt;. (ya…artinya Bapak dan Ibu harus memahami lagu itu dulu). Kalau sekedar menghafal lagu, saya yakin, semua orang bisa menyanyikannya. Untuk itu, bapak dan ibu dituntut untuk memahami lebih dalam lagi.&lt;br /&gt;            Kenyaataan yang kita temui (semoga bapak dan ibu setuju), bahwa&lt;em&gt; lagu-lagu anak&lt;/em&gt; yang ada, tidak semua bisa kita pakai untuk kegiatan ini. Kita harus memilih lagu apa yang bisa dinyanyikan dan bisa mengajak mereka berinteraksi langsung. Lagu yang terlalu panjang, konsep dan tema yang kurang tegas, bukanlah lagu yang menjadi pilihan kita. Lagu yang  dipilih adalah yang memiliki tema dan konsep yang terarah. &lt;br /&gt;            Bayangkan anda menyanyikan salah satu dari lagu anak yang anda sukai. Sebelum itu anda harus fikirkan lagu tersebut memiliki konsep dan tema tentang apa. … Baik, sekarang nyanyikanlah! Bisakah anda memvisualkan kata-kata tertentu dalam lirik lagu tersebut. Jika anda dapat melakukannya, anda telah berhasil dan menemukan satu lagu yang dapat anda nyanyikan bersama &lt;em&gt;si buah hati.&lt;/em&gt; Atau anda mengalami kesulitan? Tenyata tidak semudah yang Bapak dan Ibu kira.&lt;br /&gt;            Kesulitan yang ada alami juga merupakan kendala bagi saya ketika haru memilih lagu. Karena disadari atau tidak, lagu-lagu tersebut memang diciptaan bukan untuk anak-anak kita yang berkebutuhan khusus. Dengan sedikit memaksakan, saya akan memberikan saran beberapa judul lagu yang dapat dipakai untuk kegiatan ini.&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;table align="center" border="1" bordercolor="#000000" cellpadding="0" cellspacing="1" width="83%"&gt; &lt;tbody&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="5%"&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="41%"&gt; &lt;p&gt;Judul Lagu&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="54%"&gt; &lt;p&gt;Tema dan Konsep&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="5%"&gt; &lt;p&gt;1.&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="41%"&gt; &lt;p&gt;Satu-satu Aku Sayang Ibu&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="54%"&gt; &lt;p&gt;Berhitung (1-3), keluarga (ibu, ayah, adik dan kakak) &lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="5%"&gt; &lt;p&gt;2&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="41%"&gt; &lt;p&gt;Dua Mata Saya&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="54%"&gt; &lt;p&gt;Berhitung (1-2),Panca indra (mata, hidung, telinga, mulut, + kaki dan tangan)&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="5%"&gt; &lt;p&gt;3&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="41%"&gt; &lt;p&gt;Topi Saya Bunda&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="54%"&gt; &lt;p&gt;Diri(saya) Bangun (bundar)&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;blockquote&gt; &lt;p align="justify"&gt;Ketiga lagu ini merupakan lagu yang paling sering dinyanyikan di tempat terapi. Sementara lagu-lagu anak yang yang lain masih dinyanyikan bersama, tapi hampir tidak memiliki konsep dan tema yang jelas. Seperti &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Naik Delman, Aku Punya Anjing Kecil, Becak,&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; dan masih banyak yang lainnya.&lt;br /&gt;            Lagu &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Satu-satu ku Sayang Ibu.&lt;/em&gt; &lt;/strong&gt;Siapa &lt;em&gt;sih&lt;/em&gt; yang tak kenal dengan lagu ini. Konsep berhitung yang ada dalam lirik lagu dapat kita gunakan untuk memberikan pemahaman angka kepada anak. Hanya saja dalam lirik lagu tersebut hanya ada hitungan 1-3. Selain itu kita bisa mengenalkan konsep keluarga seperti  kata-kata; ayah, ibu, adik dan kakak. &lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt; &lt;p align="left"&gt;&lt;em&gt;Satu satu aku sayang ibu &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p align="left"&gt;&lt;em&gt;Dua dua juga sayang ayah&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p align="left"&gt;&lt;em&gt;Tiga tuga sayang adik kakak&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p align="left"&gt;&lt;em&gt;Satu dua tiga sayang semuanya.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;Mari kita lihat konsep berhitung dalam lagu tersebut. Pada kalimat (1) kata &lt;em&gt;satu satu, &lt;/em&gt; diiringi dengan mengacungkan jari telunjuk, yang melambangkan jumlah satu. Pada kalimat (2) kata &lt;em&gt;dua dua&lt;/em&gt; diiringi dengan mengacugkan jari telunjuk dan tengah yang melambangkan jumlah dua. Pada kalimat (3) kata &lt;em&gt;tiga tiga&lt;/em&gt; diiringi dengan mengacugkan jari telunjuk, tengah dan manis yang melambangkan jumlah tiga. Dan pada kalimat terakhir (4) &lt;em&gt;satu dua tiga &lt;/em&gt;sambil memberikan contoh tiga hitungan tersebut secara bergantian.&lt;br /&gt;            Selain konsep dan tema berhitung,lagu ini juga mempunyai tema keluarga. Yaitu ibu, ayah, adik dan kakak. Sama halnya dengan konsep dan tema berhitung, kata-kata ibu, ayah, adik dan kakak juga diiringi dengan memvisualkannya. Ketika mengatakan kata Ibu, maka bantu anak memahami ibu dengan memvisualkannya. Kata ayah dan ibu bisa diganti dengan kata-kata yang  lain yang disesuaikan dengan panggilan anak kepada Bapak dan Ibu.&lt;br /&gt;            Untuk dua lagu lainnya, saya percayakan kepada Bapak dan Ibu untuk mencobanya sendiri tanpa arahan dari saya. Dan untuk melalakukan hal ini, kita tidak terikat dengan kata-ata dalam lirik lagu tersebut. Kita dapat saja mengubahnya sesuai dengan kebutuhan dan keinginan kita. Atau yang lebih hebat lagi, lagu tersebut adalah ciptaan dari Bapak dan Ibu. Karena saya yakin Bapak dan Ibu mampu melakukannya. Selain itu memang sulit untuk menggunakan lagu lainnya dengan metode ini. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8116568878883160549-6728736195135505987?l=sulfialhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sulfialhamdi.blogspot.com/feeds/6728736195135505987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8116568878883160549&amp;postID=6728736195135505987' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116568878883160549/posts/default/6728736195135505987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116568878883160549/posts/default/6728736195135505987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sulfialhamdi.blogspot.com/2009/07/bernyanyi-bersama-insan-autis-ii.html' title='Bernyanyi Bersama Insan Autis II'/><author><name>Sulfi Alhamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05320416413072617215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QYxieORgQf0/SGnDUrgJiTI/AAAAAAAAAAs/TI_PTLZOp6Q/S220/IMG_6690.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8116568878883160549.post-3314138586245050394</id><published>2009-07-29T03:18:00.000-07:00</published><updated>2009-07-29T03:20:36.699-07:00</updated><title type='text'>Bernyanyi Bersama Insan Autis</title><content type='html'>&lt;h1 align="center"&gt;Bernyanyi Bersama Insan Autis&lt;br /&gt;(Bagi Para Orangtua - 1)&lt;/h1&gt; &lt;h2 align="center"&gt;Oleh: Sulfi Alhamdi&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Suatu Alternatif &lt;strong&gt;Terapi Autis.&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Pak… Bu… &lt;em&gt;autisme &lt;/em&gt;bukan lagi hal yang baru, aneh, asing bagi kita di negara ini. (tul nggak…???!!!) Orangtua yang memiliki anak dengan masalah tersebut tidak harus merasa khawatir. Informasi tentang autis dapat diperoleh dari mana saja. Banyak buku yang membahas tentang apa itu autisme. Selain itu banyak laman/situs di internet yang juga membahas tentang apa itu autisme. Tak ketinggalan seminar-seminar yang membahas tentang autisme diadakan untuk membantu para orangtua. Selain itu, banyak klinik/sekolah yang khusus tersedia untuk mereka yang &lt;em&gt;berkebutuhan khusus.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;            Laman/situs ini bertujuan untuk membantu orangtua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus tersebut. Tentu saja ruangan ini bukan satu-satunya laman yang dapat diakses untuk mencapai tujuan tersebut. Paling tidak, laman ini diharapkan memberikan pengetahuan lain tentang bagaimana cara memahami insan autis. Selain para orangtua, laman ini juga bermaksud untuk berbagi pengalaman dengan para &lt;em&gt;therapist &lt;/em&gt;dalam menangani insan autis.&lt;br /&gt;Pak…Bu… siapa pun dia, apa pun dia dan bagaimana pun dia, dia adalah bagian dari kita. Anak yang dititipan oleh Yang Maha Kuasa untuk kita. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, insan autis membutuhkan kasih sayang dan belaian dari orangtua dan orang-orang di sekitarnya. Mereka memiliki banyak keterbatasan. Keterbatasan yang kadang sangat sulit untuk dipahami oleh siapa pun. Sebagai orangtua, kita selalu berupaya melakukan apa saja. Mulai dengan melakukan hal yang masuk akal, bahkan hal yang tidak masuk akal pun terkadang menjadi pilihan kita untuk mereka (benar nggak sih…, mudah-mudahan salah ya, Pak… Bu…)&lt;br /&gt;Harus diakui, kadang rasa frustasi kadang menyelimuti hati kita (ya… paling tidak saya merasakannya ketika megajar mereka-capek dehh !!!). Boleh saja sih, rasa itu ada. Tapi tidak boleh berlarut-larut. Karena tidak akan mengubah keadaan. Dia adalah bagian dari hidup kita (bener toh!). Hari semakin hari terkadang semakin terasa berat dan lama. Segala upaya sudah maksimal. Hilangkan kesedihan dengan bernyanyi. Pecah suasana kaku dengan si buah hati dengan bernyanyi. Hibur kepenatan jiwa dan raga dengan berkomunikasi melalui lagu.&lt;br /&gt;Autisme bukanlah gangguan yang disebabkan oleh faktor tunggal. Banyak hal yang dapat menyebabkan kelainan tersebut, faktor penyebab pada tiap anak tidaklah sama. Begitu juga halnya dengan karakter setiap insan yang mengalami gangguan tersebut (itu hasil penelitian para ahli lho… Pak!?). Demikian juga dengan pengobatannya, banyak faktor yang harus dipenuhi untuk mendapatkan hasil yang maksimal.&lt;br /&gt;Hal utama yang harus Bapak-Ibu sadari adalah bahwa setiap insan autis memiliki karakter yang berbeda. Artinya tidak semua jenis terapi yang dapat diberikan kepada mereka. Contohnya, di sekolah, si A diberikan &lt;em&gt;terapi&lt;/em&gt; Okupasi dengan teknik tertentu. Cara tersebut belum tentu cocok dengan anak kita. Mungkin dia  butuh teknik yang lain, atau bahkan tidak butuh sama sekali (apa iya…ya, waduh!!!). –itu hanya perumpamaan. Untuk melakukan segala macam teknik terapi tersebut, kita serahkan sahaja pada para therapist, yang memang lebih memahaminya dari pada Bapak dan Ibu sekalian. Tapi harus diingat, (inga… inga) peran aktif orang tua dan orang disekitarnya sangat dibutuhkan. Terutama saat berada di lingkungan keluarga.&lt;br /&gt;Terus terang, laman ini tidak akan mengajak Bapak-Ibu berpusing-pusing pening untuk memahami istilah-istilah  yang memang sudah bikin keder. Biarkan saja para ahli dan para therapist di sekolah yang mengafalkan istilah-istilah itu. Laman ini ingin mengajak Bapak-Ibu, para therapist, dan yang lain (yang berminat saja) untuk berkomunikasi praktis dengan insan autis (praktis gimana… wong diajak ngomong aja susah).&lt;br /&gt;Bagaimana caranya? (gimana ya…?). Ada banyak program terapi yang diberikan di &lt;em&gt;sekolah khusus autis&lt;/em&gt;. Di tempat saya mengabdi sebagai tenaga therapist, ada beberapa kegiatan pemanasan sebelum mereka masuk pada materi inti. Kegiatan yang bertujuan untuk mengajak mereka bersosialisasi antara satu dengan yang lain. Kegiatan tersebut adalah senam bersama, permainan berkelompok, lalu bernyanyi besama (itu adalah kegiatan rutin di sekolah tempat saya mengajar).&lt;br /&gt;Pak… Buk, saya sudah berbilang tahun mengabdi di klinik/sekolah khusus untuk anak-anak yang berkebutuhan ksusus.  Saya khusus ditugasi untuk mengajak mereka bernyanyi (bersama-sama). Saya sangat yakin meskipun seorang penyanyi profesional pun belum tentu dapat melakukannya. Ternyata (menurut saya) bernyanyi itu memberikan pengaruh positif untuk mereka. Bernyanyi bukan hanya menjadi kegiatan  bersenang-senang, tapi lebih dari itu (segalanya ada di sana). Kegiatan ini dapat menetralisir kondisi psikis mereka. Kondisi yang bagaimana? Kondisi psikis yang dimaksud adalah : ada anak yang datang dari rumah dengan perasaan kesal, menangis, dan senang (ada yang berlebihan, ada yang sedang-sedang saja). &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pelajaran bernyanyi &lt;/em&gt;bersama ini juga diberikan sebagai sesi penutup kegiatan terapi. Tujuannya adalah untuk menetralisir kembali kejenuhan mereka setelah dihadapkan dengan materi terapi yang seabrek-abrek. Sehingga mereka kembali ke rumah, lingkungan keluarga dengan perasaan senang (amin… semoga…meski masih ada yang nangis gak mau pulang, pengen nyanyi terus).&lt;br /&gt;Tadi katanya untuk melatih berkomunikasi??!!&lt;br /&gt;O … iya… Yang tadi itu adalah manfaat kegiatan bernyanyi secara umum. Selain itu, ini yang khususnya ya… pelajaran ini diharapkan dapat melatih &lt;em&gt;kognitif &lt;/em&gt;anak. Lebih jauh diharapkan anak dapat berkomunikasi verbal atau minimalnya komunikasi non verbal.&lt;br /&gt;Kata-kata tertentu yang ada pada lirik lagu yang dinyanyikan, akan menjadi fokus pemahaman kosa kata mereka. Tentu saja dengan memilih lagu-lagu anak tertentu yang dapat mendukung pelajaran ini. Untuk tujuan pelajaran bernyanyi ini, tidak semua lagu dapat kita pakai. Saya memilih lagu-lagu anak yang bisa divisualkan kepada anak. Misalnya pada lagu dua mata saya ;&lt;br /&gt;Dua mata saya&lt;br /&gt;Hidung saya Satu&lt;br /&gt;dua kaki saya&lt;br /&gt;punya sepatu baru.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Lagu ini memiliki dua tema. Tema berhitung, dan tema bagian tubuh. Akan tetapi, kita harus fokus dulu pada satu tema. Misalnya tema bagian tubuh. Ketika kata mata disebutkan, maka kita akan menunjukan mata. Dan demikian seterusnya. Kita juga boleh mengambil tema behitung. Dengan melakukan cara yang sama./&lt;br /&gt;Sekarang saya kasih kesempatan kepada Bapak dan Ibu dan yang lainya untuk melanjutkan lagu tersebut, …. Untuk tema bagian tubuh, lumayan ada lima bagian tubuh yang disebutkan (mata, hidung, kaki, telinga, mulut + satu lagi tangan - kalau mau menambahkan yang lain…monggo,…). Tapi bagaimana dengan tema berhitung…???!!!&lt;br /&gt;Pada intinya, Bapak… Ibu…, kegiatan ini juga bisa kalian lakukan. Tapi jangan hanya sekedar menyanyi. Nanti anaknya hafal lagu, tapi tidak tahu maknanya.&lt;br /&gt;Pak… Bu…, ingat ya, belum tentu cara ini berhasil dengan baik pada setiap anak. Yang penting ada usaha dulu lah!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8116568878883160549-3314138586245050394?l=sulfialhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sulfialhamdi.blogspot.com/feeds/3314138586245050394/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8116568878883160549&amp;postID=3314138586245050394' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116568878883160549/posts/default/3314138586245050394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116568878883160549/posts/default/3314138586245050394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sulfialhamdi.blogspot.com/2009/07/bernyanyi-bersama-insan-autis.html' title='Bernyanyi Bersama Insan Autis'/><author><name>Sulfi Alhamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05320416413072617215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QYxieORgQf0/SGnDUrgJiTI/AAAAAAAAAAs/TI_PTLZOp6Q/S220/IMG_6690.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8116568878883160549.post-4898046394637667018</id><published>2008-03-13T21:47:00.000-07:00</published><updated>2008-07-30T18:40:05.694-07:00</updated><title type='text'>Mendongeng</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;Membangun Kreativitas Berbahasa Anak&lt;br /&gt;Melalui Cerita Boneka Tangan&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;(Oleh: Sulfi Alhamdi)&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;-Telah ditampilkan dalam seminar Nasional Bahasa da Sastra Indonesia XVI (HPBI) &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;16-18 Mei 2008&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Abstrak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak yang dibesarkan di lingkungan yang menggunakan bahasa Indonesia memiliki kendala dalam berbicara/berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Salah satu kendala tersebut adalah besarnya pengaruh penggunaan bahasa ibu tersebut terhadap kebiasaan dan kerangka berfikir mereka. Ketika seorang anak berada di lingkungan di mana ia harus berbahasa Indonesia (di sekolah), ide-ide kreatif mereka terhalang, karena berada dalam tekanan, bahwa apa yang diungkapannya harus berbahasa Indonesia yang bisa dimengerti oleh orang yang mendengarkannya pada saat itu. Dengan mendongeng dapat menciptakan suasana santai, sehingga anak bisa rileks dan menyatu dengan suasana yang tercipta ketika mendongeng sedang berlangsung. Dan pada akhirnya memunculkan kreativitas mereka dalam berbahasa yang bertujuan untuk mengungkapkan ide-ide kreativitas itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan kita. Bahasa adalah alat komunikasi. Menurut Ricard (dalam Tarigan 1990 : 13) mengatakan bahwa komunikasi adalah pertukaran ide-ide, gagasan-gagasan, informasi dan sebagainya antara dua orang atau lebih. Ketika komunikasi itu berlangsung dalam satu komunitas bahasa tertentu maka proses penyampaian ide-ide tersebut tidak akan mengalami banyak masalah, begitu juga pada anak usia dini. Akan tetapi ketika mereka berbicara dengan bahasa Indonesia, terutama pada situasi formal di dalam kelas, mereka akan menemui kendala. Kendala tersebut tidak lain adalah penggabungan ide-ide tersebut dengan bahasa yang akan digunakan. Kita harus ingat dan tidak perlu malu bahwa buat sebagian besar rakyat kita, bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua (Tarigan 1988 : 127).&lt;br /&gt;            Kemampuan berkomunikasi, berbicara dan berbahasa dapat diperoleh dimana saja dan kapan saja. Mulai dari lingkungan keluarga kecil, keluarga besar, lingkungan sekitar tempat tinggal, dan sekolah. Pemerolehan bahasa merupakan proses bawah sadar. Para pemeroleh bahasa tidak selalu sadar akan kenyataan bahwa mereka memakai bahasa buat berkomunikasi. Hasil atau akibat pemerolehan bahasa, kompetensi yang diperoleh, juga merupakan bawah sadar (Tarigan 1988 : 127). Untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi pada anak usia dini secara formal dapat diperoleh di sekolah. Sekolah taman kanak-kanak (TK) yang ada, terutama di kota Palembang menawarkan berbagai macam program pembelajaran yang mendukung kemampuan berkomunikasi tersebut. Salah satunya adalah mengadakan kelas mendongeng. Selain mengembangkan kemampuan berbahasa dan berkomunikasi anak, mendongeng juga memiliki nilai hiburan terhadap anak. Banyak aspek pendidikan yang terdapat dalam mendongeng. Dongeng mengajarkan banyak hal selain itu tidak ada anak yang tidak suka mendengarkan dongeng.&lt;br /&gt;Tidak ada anak yang tidak senang mendengarkan dongeng. Entah itu dongeng yang dibacakan dari buku atau dongeng yang telah sangat melekat di benak orangtua sehingga dapat disampaikan secara lisan dengan improvisasi di sana sini. Buktinya tokoh dalam dongeng akan selalu diingat oleh anak bahkan hingga mereka dewasa, baik yang baik maupun yang jahat. Ternyata dongeng memiliki banyak manfaat bagi anak. Sebut saja mengembangkan daya pikir dan imajinasi, kemampun berbicara, serta daya sosialisasi karena melalui dongeng anak dapat belajar mengakui kelebihan orang lain sehingga mereka menjadi lebih sportif (geodesy.gb.itb.ac.id : 2007).&lt;br /&gt;             Untuk mendongeng dibutukan kemampuan khusus bagi penyampainya. Dongeng lebih dikenal sebagai kegiatan yang dilakukan di rumah yang bertujuan untuk menidurkan anak, atau mengisi waktu senggang dalam keluarga. Menurut psikolog Bibiana Dyah Sucahyani (Electronical publishing,Batam Pos on line akses 16-04-2007, pukul 09.00) mengatakan bahwa di lingkungan keluarga mendongeng merupakan pola pendidikan yang paling ampuh dan efektif. Anak menjadi lebih mengerti apa yang boleh dilakukan dan yang tidak, apa yang baik dan apa yang tidak baik, tanpa harus dengan cara memarahi. Dari sebuah kegiatan keluarga (non formal) dongeng dibawa ke sekolah sebagai salah satu pelajaran dengan berbagai macam tujuan pembelajarannya. Salah satunya adalah untuk meninggkatkan kemampuan anak dalam berinteraksi komunikasi.&lt;br /&gt;Dongeng yang menjadi pilihan dalam makalah ini adalah dongeng dengan menggunakan boneka tangan. Boneka tangan yang bisa berbentuk (menyerupai) berbagai macam tokoh (biasanya tokoh binatang). Mengapa memilih dongeng dengan boneka tangan? Menggunakan boneka tangan sebagai alat bantu akan membuat suasana kelas lebih berkonsentrasi pada cerita yang akan disampaikan. Selain sebagai alat bantu cerita, boneka juga bisa digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi langsung dengan anak. Boneka bisa mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara langsung yang muncul dari anak. Interaksi komunikasi dengan anak bisa tercipta sehingga ide-ide kreatif dalam menggunakan bahasa mereka dapat disalurkan. Selain itu dengan boneka tangan, bahasa yang digunakan akan mempengaruhi cara anak dalam menanggapi pertanyaan atau dalam memberikan pertanyaan. Yang lebih penting lagi, mereka bisa berkomunikasi langsung menuangkan ide yang disesuaikan dengan topik cerita.    &lt;br /&gt;             Selain itu, menggunakan boneka tangan, ide cerita yang akan disampaikan akan sangat bervariasi. Si pendongeng/pencerita tidak harus menceritakan cerita-cerita legenda atau seperti dongeng pada umumnya, akan tetapi bisa mengangkat ide yang ada dalam kehidupan keseharian anak-anak. Atau lebih tepat dikatakan bahwa dengan bercerita menggunakan boneka tangan, maka cerita yang akan disampaikan adalah cerita tentang keseharian yang dialami anak-anak. &lt;br /&gt;            Objek penelitian adalah di salah satu TK swasta yang ada di kota Palembang. Pelajaran mendongeng diberikan sebatas sebagai kegiatan kelas ekstra kurikuler. Dalam kelas mendongeng ini melibatkan satu orang pencerita dan beberapa orang anak (10-15 orang) yang tergabung dalam satu kelas. Anak-anak duduk di lantai dengan posisi membentuk setengah lingkaran yang menempatkan posisi pencerita di tengahnya. Suasana kelas akan terasa sangat rileks, ketika pelajaran mendongeng dimulai. Pada saat pertama kali kelas mendongeng diperkenalkan, biasanya mereka sangat antusias dan bersiap-siap dengan gerangan apa yang akan terjadi. Pada kelas mendongeng berikutnya, sebelum mendongeng, biasanya beberapa orang anak akan memberanikan diri untuk berkomunikasi dengan boneka tangan yang sudah terpasang. Kendala yang dihadapi seorang anak biasanya terletak pada penggabungan ide kreatif berbahasa dengan bahasa yang akan digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembahasan&lt;/strong&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis yaitu suatu penelitian yang akan memaparkan data temuan dari sumber data yang ada dan kemudian dianalisis sesuai dengan landasan teori.&lt;br /&gt;            Palembang adalah salah satu daerah di Indonesia yang bahasa ibunya bukanlah bahasa Indonesia. Palembang menggunakan bahasa Melayu Palembang dalam bahasa keseharian. Pengaruh bahasa Melayu Palembang sangat lekat dalam tata cara kehidupan orang Palembang. Beberapa unsur teori belajar yang mendasari PBK (Pengajaran Bahasa Komunikatif) bisa ditemukan pada beberapa kegiatan pengajaran bahasa komunikatif (Azies et all 2000 : 24)   Dongeng atau cerita boneka tangan adalah salah satu dari kegiatan tersebut yang mendukung interaksi komunikasi dalam memancing ide-ide kreatif pada anak usia dini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;          Bahasa Melayu Palembang dan Bahasa Indonesia tidaklah terlalu jauh berbeda, seperti halnya bahasa-bahasa daerah rumpun Melayu lainnya. Akan tetapi tetap saja bahasa daerah tersebut mempengaruhi penggunaaan bahasa Indonesia apalagi dalam situasi formal seperti di sekolah data proses pembelajaran. Dengan mendongeng atau bercerita dengan menggunakan boneka tangan akan membantu anak dalam mengatasi masalah tersebut. Hipotesis Konstarastif yang dikembangkan oleh Charles Fries (1945) dan Robert Lado (1957) menyatakan bahwa &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;          Kesalahan berbahasa yang dibuat dalam belajar B2 adalah karena adanya perbedaan B1 dan B2. Sedangkan kemudahan dalam belajar B2 disebabkan oleh adanya kesamaan antara B1 dan B2. Jadi adanya perbedaan antara B1 dan B2 akan menimbulkan kesulitan dalam belajar B2, yang mungkin juga akan menimbulkan kesalahan; sedangkan adanya persamaan antara B1 dan B2 menyebabkan terjadinya kemudahan dalam belajar B2.   &lt;br /&gt;          Cerita boneka tangan disampaikan kepada anak dengan menggunakan bahasa Indonesia. Oleh karena bahasa Melayu hampir tidak jauh berbeda degan bahasa Indonesia, maka proses pembelajaran bahasa tidaklah terlalu sulit. Dua hal antara B1 dan B2 yang dikutip di atas bisa memberikan gambaran bahwa antar bahasa Melayu dan bahasa Indonesia bisa menjadi mudah dan  menjadi hal yang menyulitkan anak dalam memahami kontek komunikasi formal ketika dongeng sedang berlangsung.&lt;br /&gt;          Pemerolehan bahasa merupakan proses bawah sadar; para pemeroleh bahasa tidak selalu sadar akan kenyataan bahwa mereka memakai bahasa buat berkomunikasi. Hasil atau akibat pemerolehan bahasa, kompetensi yang diperoleh, juga merupakan bawah sadar. Kita pada umumnya tidak menyadari benar-benar kaidah-kaidah bahasa-bahasa yang kita peroleh (Tarigan 1988 : 128). Bagaimana pun dalam penelitian ini data yang diamati adalah kalimat atau ucapan yang keluar dari anak, yang berhubungan dengan tema atau jalannya cerita.&lt;br /&gt;Seorang pencerita sebaiknya juga memahami tentang ide cerita yang akan dibawakannya. Seorang pencerita harus memiliki skenario dari cerita tersebut. Untuk tercapainya sebuah interaksi komunikasi dengan anak, maka seorang pencerita harus memenuhi beberapa kriteria atau aspek penting dari bahasa.&lt;br /&gt;          Menurut Mar’at ada 3 Aspek Penting dari Fungsi Bahasa.&lt;br /&gt;1&lt;strong&gt;. Speech Act.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yang paling sering dijumpai adalah bentuk bertanya, pemberitahuan dan perintah. Peranan intonasi dan kontek pembicaraan mempunyai peranan penting dalam membantu pendegar menentukan fungsi yang dimaksud dalam suatu tuturan.&lt;br /&gt;Seorang pencerita harus menguasai seni penceritaan dongeng. Harus mampu menguasai intonasi, menjaga kestabilan jalan cerita, dan sanggup berkomunikasi dengan anak ketika dalam bercerita.&lt;br /&gt;2. &lt;strong&gt;Thematic Structure.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adalah penilaian tentang keadaan mental pada saat seseorang berbicara. Seseorang pembicara harus mempunyai gambaran kira-kira tentang apa yang ada pada pikiran pendengarnya pada waktu itu. Yaitu pada waktu ia berbicara. Ia harus memperhatikan hal-hal apa saja yang telah diketahui oleh pendengar dan hal-hal apa saja yang belum.&lt;br /&gt;Ketika menentukan satu topic cerita yang akan disampaikan, pencerita harus berupaya memahami penguasaaan kosakata yang ada pada anak. Bagaimana seorang pencerita bisa memakai kosakata lama/yang sudah dimengerti, dan memperkenalkan kosakata baru untuk mereka.&lt;br /&gt;3. Propo&lt;strong&gt;sitional Content.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Karena pembicara ingin menyampaikan ide-ide tertentu kepada pendegar, maka kalimat yang dipilih harus pula merefleksikan jalan si pembicara mengenai objek, kejadian-kejadian dan fakta-fakta yang ada.&lt;br /&gt;Menyederhanakan kalimat-kalimat untuk membantu anak memahami isi cerita adalah tugas seorang pencerita. Cerita yang dipilih pun idenya harus mengenai objek dan kejadian-kejadian dan fakta-fakta yang ada.&lt;br /&gt;Ketika cerita akan dimulai dan sedang berlangsung, biasanya anak akan tetap fokus pada cerita yang akan disampaikan. Meskipun ada (banyak) di antara mereka yang kurang peduli. Akan tetapi mereka yang fokus pada cerita, akan memberikan reaksi baik dengan bahasa verbal maupun bahasa non-verval.  Mereka mencoba memahami jalan cerita dengan ikut terlibat dalam cerita tersebut. Keterlibatan itu mereka tunjukan dengan menyela percakapan yang ada dalam cerita atau dengan menjawab pertanyaan pencerita, baik sebagai tokoh dalam cerita atau sebagai pencerita itu sendiri. Bahkan diantara mereka ada yang sengaja mengulang beberapa poin percakapan atau mengekspresikan dengan bahasa verbal dari prose cerita yang sedang belangsung. Proses kognitif yang terjadi pada waktu seseorang berbicara dan mendengarkan antara lain megingat apa yang baru didengar, mengenal kembali apa yang baru didengar itu sebagai kata-kata yang ada artinya, berfikir mengungkapkan apa yang telah tersimpan dalam ingatan dalam bentuk ujaran atau tulisan. (Mar’at 2005 : 1)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;          Mar’at menjabarkan proses kognitif yang terjadi pada saat seorang berbicara dan mendengarkan lawan bicaranya. Hal ini bisa dijabarkan pula ketika dongeng/cerita boneka sedang berlangsung.&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;1.      Mengingat apa yang baru didengar.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Terkadang ada beberapa dari kosa kata yang diucapkan pencerita yang diulang kembali oleh anak sebagai ujud dari proses mengingat apa yang didengar. Mereka secara spontan mengungkapkan ide kreatif mereka.&lt;br /&gt;Pre Test (tanpa boneka tangan)&lt;br /&gt;Pencerita        : “Kita harus rajin gosok…gigi. Siapa yang tahu bagaimana cara menggosok gigi?&lt;br /&gt;Fajri, Salsa, Rio, Fajri         : (mereka langsung menunjukan ekspresi bagaimana caranya menggosok gigi. Sambil mereka memahami arti gosok gigi dan menirukan mereka memperhatikan kawan-kawan yang lain untuk menyamakan ekspresi mereka.)&lt;br /&gt;Test (dengan boneka tangan1)&lt;br /&gt;Pencerita    : (Rabbit) Teman-teman, aku kan belum pernah menggosok gigi, bagaimana ya caranya?&lt;br /&gt;Fajri           : Mak ini nah, Rabbit! (sambil memperagakan cara menggosok gigi)&lt;br /&gt;Pencerita    : Iya, Fajri Seperti apa? Seperti ini.&lt;br /&gt;Salsa          : (sambil memperagakan cara menggosok gigi)&lt;br /&gt;Rio             : Ya Rabbit, seperti ini, kamu bisa? (sambil memperagakan cara menggosok gigi)&lt;br /&gt;Nita            : (sambil memperagakan cara menggosok gigi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Post test (dengan boneka tangan2)&lt;br /&gt;Pencerita    : (Rabbit) Aduh… gigiku sakit sekali. Aduh… tolong.&lt;br /&gt;Fajri           : Makanya jangan makan permen terus.&lt;br /&gt;Salsa          : Iya Rabbit, jangan makan permen.&lt;br /&gt;Rio             : Aku juga suka makan permen, tapi gigi ku tidak sakit.&lt;br /&gt;Nita            : Ya Rabbit, kamu harus rajin sikat gigi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.      Mengenal kembali apa yang baru didengar.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketika pertama kali kelas mendongeng/bercerita dengan boneka, mereka belum mengenal apa pun tentang boneka tangan. Ketika mereka diberitahu bahwa nanti akan ada cerita boneka, yang ada dalam pikiran mereka adalah beberapa pertanyaan. Apa sih cerita boneka tangan itu? Seperti apakah cerita itu?  Kali berikutnya mereka telah mempunyai pengalaman dengan cerita boneka tangan. Lalu mereka berlomba untuk mengenal kembali apa yang telah mereka alami.&lt;br /&gt;Pre Test (tanpa boneka tangan).&lt;br /&gt;Pencerita    : (Saat bercerita, anak-anak ada memperhatikan dan ada yang tidak peduli)&lt;br /&gt;Fajri, Salsa, Rio, Nita : (hanya mendengarkan, sambil senyum, dan tertawa).&lt;br /&gt;Test (dengan boneka tangan1).&lt;br /&gt;Pencerita    : (Saat mempersiapkan boneka, dan sebelum boneka disarungkan)&lt;br /&gt;Fajri           : Apo itu pak sulfi, Boneka yo?&lt;br /&gt;Pencerita    : Apa sayang, ya ini boneka kelinci, ini boneka beruang&lt;br /&gt;Rio             : Hey jingok itu, ado gambar wortelnyo (gambar wortel dibaju boneka kelinci).&lt;br /&gt;Post test (dengan boneka tangan2).&lt;br /&gt;Pencerita    : Anak anak, apa warna si Rabbit?&lt;br /&gt;Fajri           : Pink, ada gambar wortel juga.&lt;br /&gt;Salsa          : Sama dengan boneka aku dirumah&lt;br /&gt;Rio             : Kalau Teddy warnya coklat&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.      Berpikir mengungkapkan apa yang telah tersimpan dalam ingatan dalam bentuk ujaran.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka melihat/memperhatikan kedua boneka tangan, mereka mencoba memahai sesuatu terhadapnya. Ada beberapa hal yang mereka rasakan dan mereka mulai berpikir untuk mengungkapkan apa yang telah tersimpan dalam ingatan mereka.&lt;br /&gt;Pre Test (tanpa boneka tangan)&lt;br /&gt;Bercerita tanpa boneka tangan dilakukan pada saat pertama. Ketika itu belum ada reaksi yang diberikan anak.&lt;br /&gt;Test (dengan boneka tangan 1).&lt;br /&gt;Nita              : eh, hidungnya lucu ya.&lt;br /&gt;Rio               : Rabbit, kamu bawa permen? Aku mau, dong!&lt;br /&gt;Fajri             : Kamu galak makan permen yo?&lt;br /&gt;Post test (dengan boneka tangan2).&lt;br /&gt;Rio             : Halo Pak Sulfi apa kabar?, (pencerita),Halo Rabbit (boneka kelinci berwarna pink), Halo Teddy (boneka beruang berwarna coklat).&lt;br /&gt;Fajri             : Kok bonekanyo itu-itu terus ya&lt;br /&gt;Pencerita      : Iya nih, Pak Sulfi kan Cuma punya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dongeng/cerita boneka tangan akan memberikan kemudahan kepada anak dalam mempelajari bahasa sebagai bahasa komunikasi dalam menuangkan ide-ide kreatif mereka. Menurut Bilbiana dengan dongeng anak bisa mencerna lebih gampang keadaan yang terjadi disekitarnya dan bagaimana menyikapinya (Batam Pos on line). Dongeng/cerita boneka tangan bisa juga mengajarkan anak tanggap menghadapi situasi sesuai dengan topik cerita yang sedang berlangsung. Mereka kembali mengungkapkan ide kreatif mereka ketika mereka menginginkannya.&lt;br /&gt;Pencerita          : (Teddy) hey Rabbit, kamu kenapa? Gatal ya? Pasti kamu belum&lt;br /&gt;                           mandi.&lt;br /&gt;  (Rabbit) iya, aku….&lt;br /&gt;            Nita      : Iya, nanti badannya bau. i… (sambil menunjukan ekspresi bau)&lt;br /&gt;            Rio       : aku idak bauk.(sambil mencium baju di bawah dagu)&lt;br /&gt;            Siapa pun di dunia ini membutuhkan bahasa untuk berkomunikasi. Manusia tidak lepas dari bahasa dalam kehidupannya. Segala aspek kehidupan berakar dari bahasa. Dengan bahasa kita bisa melakukan segala hal. Bahasa adalah alat verbal yang digunakan untuk berkomunikasi. Sedangkan berbahasa adalah proses penyampaian informasi dalam berkomunikasi (Chaer 2003 : 30). Dalam mendongeng/cerita boneka tangan yang bertujuan untuk membantu anak dalam berinteraksi komunikasi guna memacu ide-ide kreatif mereka dalam berbahasa. Cara ini dianggap memenuhi lima fungsi dasar bahasa yang dirumuskan oleh Kinneavy (Chaer 2003 : 33)&lt;br /&gt;Ke lima fungsi dasar tersebut adalah :&lt;br /&gt;(diamati ketika memberikan post test (cerita boneka 2))&lt;br /&gt;Fungsi ekspresi. Pernyataan senang, benci, kagum, marah, jengkel, sedih.&lt;br /&gt;Dengan mendongeng/cerita boneka, baik pencerita maupun pendengar dapat mengungkapkan pernyataan senang,, benci, kagum dll.pencerita bisa memberikan pertanyaan agar anak menjawab atau bisa memancing anak untuk bertanya, sehingga ketika bertanyapun anak bisa mengekpresikan rasa kagum, senang, benci dan sedih.&lt;br /&gt;Pencerita          : Teman-teman, aku punya permen dan coklat, nanti kamu akan &lt;br /&gt;                          saya kasih, mau ya?&lt;br /&gt;Fajri                 : Mau. Aku mau. Tapi nanti gigiku sakit.&lt;br /&gt;Pencerita          : Siapa yang tiap hari selalu mandi?&lt;br /&gt;Salsa                : Saya. &lt;br /&gt;Nita      : saya mandi pakai sampo.&lt;br /&gt;Fungsi Informasi. Menyampaikan pesan atau amanat kepada orang lain.&lt;br /&gt;Dalam kelas mendongeng, baik pencerita ataupun si pendengar dapat menyampaikan pesannya kepada orang lain. Pesan tersebut adalah pesan-pesan yang biasanya mereka sudah pernah mendengarnya. Akan tetapi pada saat itu, kalimat tersebut muncul kembali karena adanya stimulus.&lt;br /&gt;Pencerita          : Teman-taman, kita tidak boleh terlalu banyak makan permen, &lt;br /&gt;                           nanti gigi kita sakit.&lt;br /&gt;Rio       : Ya, nanti gigi kita sakit.&lt;br /&gt;Fajri     : Nanti aku gosok gigi,&lt;br /&gt;Nita      : Gigi Adi ada hitamnya&lt;br /&gt;Fungsi Ekplorasi. Menjelaskan sesuatu hal, perkara dan keadaan.&lt;br /&gt;Anak-anak yang kreatif pun mempunyai kesempatan untuk menjelaskan sesuatu. Ketika ia mengetahui sesuatu maka memalului stimulus, ia pun akan mencoba melakukan sesuatu untuk menjelaskan idenya.&lt;br /&gt;Fajri     : Rabbit warnanya pink!&lt;br /&gt;Nita, Rio          : Teddy warnanya coklat.&lt;br /&gt;Pencerita          : Kalau pak Sulfi warna bajunya apa?&lt;br /&gt;Semua anak      : Biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fungsi Persuasi&lt;/strong&gt;. Fungsi bahasa yang bersifat mempengaruhi atau mengajak orang lain untuk melalkukan atau tidak melakukan sesuatu secara baik-baik.&lt;br /&gt;Pada tahap selanjutnya anak akan berusaha mengajak atau mendominasi temannya dengan kemauan dan keinginannya. Bahkan sering kali tejadi adu mulut diantara mereka untuk mempertahankan pendapatnya.&lt;br /&gt;Pencerita          : Teman-teman, rabbit tidak tahu cara menggosok gigi. Ada yang&lt;br /&gt;                           tahu cara menggosok gigi?&lt;br /&gt;Semua Anak     : i..i (sambil menunjukan cara menyikat gigi dengan gerakan kiri &lt;br /&gt;                          dan kanan.)&lt;br /&gt;Pencerita          : Kalau gigi depan, kita mesti mengosok seperti ini! (sambil&lt;br /&gt;                          mempergakan gerakan atas bawah)&lt;br /&gt;Semua anak      : Ini i..i.. (sambil menirukan gerakan dari pencerita, dan &lt;br /&gt;                         Saling  memperlihatkan kepada temannya.)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fungsi Entertain.&lt;/strong&gt; Fungsi untuk menghibur.&lt;br /&gt;Dalam percakapan sehari-hari antara pendengar dan pembicara pun terjadi kelucuan-kelucuan, entah itu dari bahasanya atau ekspresi dan gerak tubuh. Maka dalam mendongeng fungsi menghibur adalah unsur yang mutlak. Seorang pendongeng harus dapat menjalankan fungsi itu dengan baik.&lt;br /&gt;            Pencerita          : Teman-teman, aku mau bernyanyi. Dengar ya. Bangun tidur         &lt;br /&gt;                                      kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis itu ku tidur &lt;br /&gt;                                      lagi…&lt;br /&gt;            Fajri                 : hu…hu… bukan begitu Teddy. Aku bisa.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penutup.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal positif yang dapat kita sampaikan kepada anak dengan cara mendongeng/cerita boneka. Tidak hanya memancing mereka untuk berinteraksi komunikasi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai yang lain. Berawal dari sebuah cerita pengantar tidur, kemudian menjadi kegiatan di waktu senggang, saat ini dongeng/cerita boneka telah menjadi sebuah kegiatan pengajaran di sekolah. Semoga dengan program ini, anak tidak hanya menjadi lawan bicara pencerita, tetapi juga diharapkan bisa sebagai pencerita, dan bisa menciptakan cerita dengan bahasa mereka sebagai wujud suksesnya penumpahan ide kreatif mereka dalam berkomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Akbar-Hawadi, Reni. 2004. Psikologi Perkembangan Anak. Mengenal Sifat, Bakat dan Kemampuan Anak. Jakarta. PT. Grasindo.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Azies, Furqanul dan A Chaedar Alwasilah. 2000. Pengajaran Bahasa Komunikatif. Teori dan Praktek. Bandung. Remaja Rosdakarya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Batam. 2007. Mendidik Anak Melalui Dongeng. (artikel) Batam. Batam Pos On line.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bunanta, Murti. 2003. Anak dan Minat Budaya. Dimanakah Usaha dan Tanggung Jawab Kita? (Makalah Konggres Kebudayaan V, di Bukittinggi.)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik. Kajian Teoretik. Jakarta. Rineka Cipta.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mar’at. Samsunuwiyati. 2005. Psokolinguistik. Suatu Pengantar. Bandung. Refika Aditama.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tarigan, Henry Guntur. 1988. Pengajaran Pemerolehan Bahasa. Bandung. Angkasa.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;_______.  1990. Pengajaran Kompetensi Bahasa. Bandung. Angkasa.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8116568878883160549-4898046394637667018?l=sulfialhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.rajadunia.net' title='Mendongeng'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sulfialhamdi.blogspot.com/feeds/4898046394637667018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8116568878883160549&amp;postID=4898046394637667018' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116568878883160549/posts/default/4898046394637667018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116568878883160549/posts/default/4898046394637667018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sulfialhamdi.blogspot.com/2008/03/mendongeng_13.html' title='Mendongeng'/><author><name>Sulfi Alhamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05320416413072617215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QYxieORgQf0/SGnDUrgJiTI/AAAAAAAAAAs/TI_PTLZOp6Q/S220/IMG_6690.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8116568878883160549.post-652569894719171161</id><published>2008-03-10T21:39:00.000-07:00</published><updated>2008-03-10T22:51:03.551-07:00</updated><title type='text'>Bahasa dan Anak Autis</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;Pemerolehan Bahasa melalui Pelajaran Bernyanyi ;&lt;br /&gt;(Studi Kasus di Sekolah Khusus Autisme; Bina Autis Mandiri Palembang)&lt;br /&gt;(TELAH DISAMPAIKAN PADA SEMINAR HPBI 2006)&lt;br /&gt;Abstrak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pelajaran/terapi yang diberikan untuk anak-anak penderita autis adalah pelajaran bernyanyi dan musik. Pelajaran ini merupakan bagian dari kurikulum muatan lokal, selain metode dan kurikulum lain yang diberikan pada anak-anak autis di sekolah Bina Autis Mandiri Palembang. Pelajaran bernyani diharapkan dapat memberikan rangsangan terhadap anak-anak penderita autis baik rangsangan kognitif dan psikomotor terutama rangsangan pada alat ucap mereka yang memiliki masalah. Pelajaran bernyanyi diharapkan juga dapat membantu pengembangan kosa kata yang berhubungan dengan pemerolehan bahasa anak-anak penderita autis.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;1. Pendahuluan.&lt;br /&gt;Terapi bernyanyi dan musik adalah termasuk program yang diberikan bagi anak-anak penderita autis. Terapi bernyanyi dan musik ini merupakan bagian dari kurikulum muatan lokal selain dengan mengunakan metode yang diterapkan seperti ABA/LOVAAS. Salah satu metode pengajaran untuk anak penderita autis adalah metode ABA (Applied Behavior Analysis) atau metode Lovaas. Kebanyakan klinik-klinik yang ada di Indonesia menggunakan metode ini. Dianggap lebih tepat karena metodenya sangat terstruktur. Materi yang akan diajarkan telah tersedia (Handojo, 2006:7)&lt;br /&gt;Pelajaran bernyanyi merupakan salah satu pelajaran yang diberikan kepada anak-anak penderita autis di samping pelajaran-pelajaran lainnya. Berbeda dengan pelajaran lain yang diberikan dengan metode ABA, satu murid dipegang oleh satu orang atau dua orang guru, pelajaran bernyanyi adalah kelas di mana murid-murid dikumpulkan dan didampingi oleh gurunya masing-masing. Ini berarti dalam memberikan pelajaran bernyanyi adalah pelajaran yang bersifat umum. Selain benyanyi, mereka juga akan terlatih untuk bersosialisasi dengan lingkungan dan teman-teman sesama penderita autis yang lain dan juga akan menambah keberanian mereka dalam berekspresi.&lt;br /&gt;Pelajaran bernyanyi diharapkan akan mampu memberikan rangsangan terhadap anak-anak penderita autis, baik rangsangan kognitif atau psikomotorik. Terutama ransangan alat ucap yang memang memiliki masalah.&lt;br /&gt;Dengan bernyanyi, murid dan guru diharapkan bisa sebagai menyatu dan lebih relaks dan diharapkan bisa sebagai pengganti prompt (cara memberikan terapi verbal) dalam proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;2. Memberikan Pelajaran Bernyanyi pada Anak-anak Penderita Autis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran bernyanyi diharapkan membantu pengembangan kosa kata yang berhubungan dengan pemerolehan bahasa terhadap mereka. Hal yang perlu dikaji terhadap perkembangan anak-anak penderita autisme salah satunya adalah bahasa dan komunikasi (Handojo, 2006:13).&lt;br /&gt;Anak-anak penderita autis sangat berbeda dengan anak-anak normal, mereka akan membutuhkan waktu yang lama dan durasi waktu yang panjang dan harus berkesinambungan. Pendidikan untuk anak-anak penderita autis membutuhkan perhatian yang penuh. Program terapi anak ini bukan suatu program yang singkat . Waktu yang dibutuhkan cukup lama, yaitu lebih kurang 2-3 tahun (Handojo, 2006:8).&lt;br /&gt;Anak belajar lebih baik melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan yang alamiah (Depdiknas, 2003:1). Mereka akan digabungkan menjadi kelas yang besar di mana di dalam kelas tersebut terdapar 10 – 15 orang anak. Mengembangkan metode pelajaran bernyanyi ini adalah mencoba memahami bahwa dengan kegiatan bernyanyi tersebut daya tarik anak akan bertambah dan akan menimbulkan rangsangan untuk mengeluarkan ujaran-ujaran atau kosa kata bahkan mungkin sebuah kalimat. Manusia mempunyai kecendrungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecendrungan untuk belajar dengan cepat hal-hal yang baru. Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting (Depdiknas, 2003:14).&lt;br /&gt;Musik dapat dipergunakan sepanjang hari untuk menyatukan kegiatan pembelajaran. bernyanyi, menggerakkan badan, bertepuk tangan, menari, dan memainkan alat-alat musik, atau menyimak dengan tenang kesemuanya dapat diberikan sebagai kegiatan pembelajaran sepanjang hari. Musik mengembangkan pancaindra, mengajarkan ritme, berhitung dengan pola kalimat, memperkuat otot halus dan kasar, dan mendorong kreatifitas (Teamwork, 2000:9).&lt;br /&gt;Sebagai pedoman materi lagu yang dipilih adalah lagu-lagu sederhana yang mudah untuk dipahami oleh anak normal. Kemudian dengan menambahkan gerak dan ekspresi lainnya akan digabungkan menjadi satu kemasan yang menarik.&lt;br /&gt;Anak-anak merasakan kebahagian ketika mereka bergoyang, menari, bertepuk, dan beryanyi bersama seseorang yang mereka percayai dan cintai. Bahkan sementara mereka merasa senang dan terhibur, musik membantu pembentukan perkembangan mental, emosi, serta keterampilan sosial dan fisik mereka selain memberi mereka kegairahan dan keterampilan yang mereka perlukan untuk mulai belajar secara mandiri (Campbell, 2003:10).&lt;br /&gt;Bernyanyi dapat membantu dan merangsang serta memancing respon anak normal atau anak-anak penderita autis. Kata-kata dalam lagu tersebut akan dapat membantu mereka untuk melatih alat ucapnya sehingga mereka menghasilkan bunyi yang berupa kata-kata atau bahkan kalimat.&lt;br /&gt;Untuk menambah daya tarik anak terhadap lagu-lagu tersebut akan sangat menarik apabila dibantu dengan ekspresi-ekspresi yang menunjang makna dari kata-kata dalam lagu tersebut. Ia dapat bermain dengan kata-kata dan bunyi-bunyian lain, mengembangkan keterampilan linguistiknya secara menyenangkan secara alami (Campbell, 2003:130). Dengan memberikan kegiatan tersebut secara berkesinambungan akan mengantarkan mereka kepada pengalaman yang dapat membantu mereka sebagai salah satu upaya penyembuhan. Dengan lagu-lagu yang diberikan sebagai materi pelajaran bernyanyi diharapkan akan membantu pemerolehan dan penambahan kosa kata mereka.&lt;br /&gt;Disamping itu, anak akan merasa senang bila lagu tersebut dinyanyikan memakai gerakan yang sesuai dengan lirik lagu. Dan akan lebih menarik lagi bila nama anaknya disebutkan dalam lirik lagu tersebut (Putrakembara,2006:23). Beberapa cara dan teknik dapat dikembangkan dalam memberikan pelajaran bernyanyi sehingga rasa ketertarikan mereka bisa bertahan lama. Tanpa daya tarik yang dapat mencuri perhatian mereka, akan sangat sulit mempertahankan perhatian mereka, sehingga tujuan kegiatan tidak tercapai secara maksimal.&lt;br /&gt;Bernyanyi ataupun mendengar musik sangat membantu perkembangan anak, termasuk anak-anak penderita autis. Bernyanyi dan bermusik tidak harus sebagai pelajaran tetapi bisa juga dipakai dalam keseharian mereka diluar jam belajar/sekolah. Kegiatan ini dapat dilakukan di mana saja, di rumah, dalam perjalanan, saat bertamasya. Campbell (2003:4) selanjutnya mengatakan bahwa&lt;br /&gt;Bahwa skor IQ meningkat di kalangan anak-anak yang menerima pelatihan musik secara teratur; terapi musik selama setengan jam sehari dapat memperbaiki fungsi kekebalan tubuh anak-anak; juga bahwa musik dapat meredakan ketegangan, mendorong interaksi sosial, merangsang perkembangan bahasa, dan memperbaiki keterampilan motorik di kalangan anak-anak&lt;br /&gt;3. Pemerolehan Bahasa (Psikoliguistik).&lt;br /&gt;Pada aliran linguistik manapun bahasa selalu dikatakan memiliki tiga komponen : sintakstik, fonologi, dan semantik (Dardjowidjojo, 2003:18). Dari tiga kompenan aliran linguistik tersebut, yang akan menjadi fokus dalam tulisan ini adalah komponen fonologinya. Yaitu akan memfokuskan pada ujaran-ujaran yang dikeluarkan oleh seorang anak penderita autis. Komponen fonologi bersifat interpretif. Komponen ini menangani ihwal yang berkaitan dengan bunyi. Bunyi merupakan simbol lisan yang dipakai oleh manusia untuk menyampaikan apapun yang ingin disampaikan. (Dardjowidjojo, 2003:20).&lt;br /&gt;Masalah yang dihadapi oleh pendengar adalah bahwa dia harus dapat meramu bunyi-bunyi yang dia dengar itu sedemikian rupa sehingga bunyi-bunyi itu membentuk kata yang tidak hanya bermakna tetapi juga cocok dalam kontek di mana kata-kata itu dipakai. (Dardjowidjojo, 2003:29).&lt;br /&gt;Pada anak normal seperti yang diungkapkan Dardjowidjojo bahwa kepentingan ujaran pada anak bertitik tolak pada sudut pandang anak sehingga macam ujaran yang muncul juga mencerminkan kepentingan anak ini. Anak akan memperhatikan kepentingan dia sendiri sehingga apapun yang menjadi hal utama bagi anak akan didahulukan. Peran kelayakan ujaran juga terarah ke dalam sehingga ujaran untuk meminta sesuatu pasti lebih dahulu dikuasai dari pada macam ujaran yang lain (Dardjowidjojo, 2000:44). Ketika pelajaran bernyanyi sedang berlangsung, maka sesekali anak akan diminta untuk bernyanyi sendiri dengan terlebih dahulu bertanya kepada mereka. Ketika sebuah keinginan anak mulai muncul maka mereka akan merespon dengan baik. Ketika seorang anak memberikan respon, maka respon itu harus disalurkan secepat mungkin.&lt;br /&gt;Mengenai pengembangan kemampuan percakapan, anak juga secara bertahap menguasai aturan-aturan yang ternyata ada dan harus diikuti. Suatu percakapan mempunyai tiga komponen : (1) pembukaan, (2) giliran, (3) penutup. Dalam pembukan harus ada ajakan dan tanggapan. (Dardjowidjojo, 2000:45). Dengan memberikan pelajaran bernyanyi maka diharapkan proses dengan melalui tahapan-tahapan tersebut akan bisa diamati secara seksama.&lt;br /&gt;Moskowitz, Pine, Barton &amp;amp; Tomasello dalam Dardjowidjojo mengungkapkan bahasa yang kita pakai untuk anak mempunyai ciri-ciri khusus (1) kalimatnya pendek-pendek, (2) tidak mengandung kalimat majemuk, (3) nada suara biasanya tinggi, (4) intonasinya agak berlebihan, (5) laju ujaran tidak cepat, (6) banyak redundansi, (7) banyak memakai sapaan. (Dardjowidjojo, 2000:49).&lt;br /&gt;Bahasa adalah suatu sistem simbol lisan yang arbiter yang dipakai oleh anggota suatu masyarakat bahasa untuk berkomuniksi dan berinteraksi antara sesamanya, berlandaskan pada budaya yang mereka miliki bersama. (Dardjowidjojo, 2003:16). Meskipun anak-anak penderita autis tesebut mempunyai kesulitan dalam berkomunikasi dan berbahasa, tetapi mereka tetap mempunyai keunikan. Bahkan ada di antara mereka yang menciptakan bahasa mereka sendiri. Kemampuan pemerolehan bahasa adalah sesuatu yang unik untuk manusia. (Dardjowidjojo, 2003:5)&lt;br /&gt;Secara rinci psikolinguistik mempelajari empat topik utama: a) komprehensi, yaitu proses-proses mental yang dilalui oleh manusia sehingga mereka dapat menangkap apa yang dikatakan orang dan memahami apa yang dimaksud, b) produksi, yakni, proses-proses mental pada diri kita yang membuat kita dapat berujar seperti yang ita ujarkan, c) landasan biologis serta neurologis yang membuat manusia bisa berbahasa, d) pemerolehan bahasa, yakni, bagaimana anak memperoleh bahasa mereka. (Dardjowidjojo, 2003:7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Analisis Lapangan&lt;br /&gt;Kendala berbahasa/berkomunikasi yang merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh anak-anak penderita autis merupakan faktor utama yang harus mendapatkan perhatian. Proses berbahasa mereka mengalami banyak kendala. Terkadang mereka hanya bisa merasakan dan mengerti apa yang diungkapkan lawan bicara tanpa bisa memberikan respon. Terapi wicara adalah hal utama yang diberikan di klinik/sekolah khusus penderita autis. Terapi wicara adalah terapi yang diberikan kepada anak-anak penderita autis untuk membantu mereka berbicara dan membantu merangsang organ-organ tubuh yang berkaitan dengan proses berbicara. Salah satu teknik terapi wicara adalah dengan kegiaan bernyanyi.&lt;br /&gt;Memberikan pelajaran bernyanyi pada anak-anak merupakan kegiatan yang mengasyikkan, baik oleh pengajar, guru pendamping (orang tua) dan anak-anak itu sendiri. Kegiatan bernyai yang dimaksudkan adalah bernyanyi dengan memilih tema-tema lagu tertentu dibantu dengan musik pengiring dan menari (gerak tubuh). Dengan memberikan sentuhan pendekatan kontektual yaitu belajar sambil mengalami proses. Mereka dilibatkan sepenuhnya dengan bantuan guru pendamping agar mereka mendapat perhatian penuh ketika mengalami proses tersebut. Pelajaran bernyanyi berbeda dengan pelajaran lain, di mana dalam satu ruangan (kelas) diperuntukan bagi seorang murid dengan seorang guru tanpa bergabung dengan murid dan guru yang lain, sedangkan pelajaran bernyanyi adalah gabungan dari seluh anak uang terdri dari 10-15.&lt;br /&gt;Pada awal pertama lagu-lagu ini dikenalkan peran aktif guru utama atau guru pendamping sangat dibutuhkan. Guru utama adalah guru yang memberikan pelajaran bernyanyi. Anak hanya menikmati lagu tersebut dengan gaya ciri khas mereka masing-masing. Kelas bernyanyi membutuhkan waktu yang lama dan kesabaran dalam mengajarkan lagu-lagu kepada anak-ank penderita autis. Lagu-lagu tersebut akan dinyanyikan berulang-ulang sampai mereka mulai mengikuti dan menikmati lagu tersebut. Hal itu akan terlihat dari ekspresi mereka.&lt;br /&gt;Pelajaran bernyanyi ini tidak terlepas dari musik pengiring (gitar, keyboard) dan gerak. Komponen tersebut tidak bisa dipisahkan dalam memberikan pelajaran bernyanyi kepada anak. Sebelum mereka diarahkan kepada kata-kata yang ada dalam lirik lagu, mereka diberikan arahan dengan musik pembuka (intro lagu). Ketika mereka mencoba untuk menyanyikan lagu akan lebih baik kalau dibantu dengan gerakan yang sesuai/mendukung lirik dalam lagu tersebut.&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini telah diuji cobakan beberapa lagu anatara lain topi saya bundar, balonku ada lima, cicak-cicak di dinding, dua mata saya, dan dua lagu berbahasa Inggris yaitu C-O-C-O-N-U-T dan good morning. Dari ketujuh lagu yang diberikan tersebut, masing-masing mempunyai karakter dan kesukaran terendiri.&lt;br /&gt;Dalam pelajaran bernyanyi ini ada dua tahap yang diberikan yaitu bernyanyi bersama, dan bernyanyi secara individu. Dalam makalah ini akan diberikan beberapa contoh lagu.&lt;br /&gt;Cicak-cicak di Dinding&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cicak-cicak di dinding&lt;br /&gt;Diam-diam merayap&lt;br /&gt;Datang seekor nyamuk&lt;br /&gt;Hap, lalu ditangkap&lt;br /&gt;Lagu Cicak-cicak di Dinding ini termasuk lagu yang disenangi anak-anak penderita autis. Kegiatan bernyanyi ini akan dimulai dengan bernyanyi bersama-sama. Pada langkah awal peran serta guru pendamping sangat dominan. Menyanyikan lagu ini harus dengan suara lantang dan artikulasi yang jelas, ditambah dengan penekanan-penekanan pada kata tertentu. Biasanya penekanan tersebut pada suku kata terakhir pada setiap baitnya. Selain itu juga dibutuh espresi-ekspresi atau gerakan-gerakan tertentu yang membantu anak untuk mendapatkan kesan mereka tersendiri terhadap lagu ini. Terkadang guru pendamping juga harus memandu anak untuk melakukan gerakan-gerakan tertentu yang sesuai dengan kata-kata dalam lagu. Meski tidak setiap kata yang bisa diiringi atau dilambangkan dengan gerakan.&lt;br /&gt;Setelah mengulang lagu beberapa kali peran serta guru pendamping mulai berkurang, dimulai dengan mengurangi volume suara kemudian berangsur-angsur mengurangi kata-kata dalam lagu.&lt;br /&gt;Pada lagu ini ujaran pertama yang keluar dari mulut mereka (rata-rata) adalah “hap”. Ketika guru menyebutkan “datang seekor nyamuk…hap…lalu ditangkap”. Hampir separuh dari mereka mengucapkan “hap”&lt;br /&gt;Setelah beberapa kali (minggu) lagu tersebut dinyanyikan mereka mulai mengikuti lirik tetapi baru sebatas suku akhir dari lagu tersebut. Misalnya “ding” setelah “Cicak-cicak di din… (ding)”. “Yap” setelah “Diam-diam mera … (yap,)”. “Muk, hap” setelah “Datang seekor nya … (muk, hap). “Kap” setelah “lalu ditang … (kap)”.&lt;br /&gt;Proses selanjutnya adalah mereka mulai mengikuti suku kata terakhir dari setiap kata yang ada dalam lirik lagu tersebut.&lt;br /&gt;Ci cak-ci cak di din ding&lt;br /&gt;Di yam-di yam mera yap&lt;br /&gt;Da tang see kor nya muk&lt;br /&gt;Hap, la lu ditang kap&lt;br /&gt;(Suku kata yang dicetak tebal dan miring adalah kata-kata yang diucapkan anak).&lt;br /&gt;Setiap tahap dalam proses tersebut selalu diberikan kesempatan kepada anak untuk bernyanyi secara individu/perorangan. Mereka diposisikan ditengah lingkaran atau di depan kelas, tergantung formasi yang diterapkan. Formasi ini akan sangat menentukan kemauan anak dalam bernyanyi secara individu. Ketika seorang anak sedang tidak menyenangi guru utama, maka ia akan membelakangi guru tersebut dan menghadap kepada teman-temannya yang berbaris berbanjar. Ketika seorang anak malu dengan dengan temannya, maka guru utama harus memberikan perhatian khusus dengan posisi berhadap-hadapan seolah-olah tidak ada orang lain yang memperhatikannya. Dalam situasi tertentu membentuk lingkaran akan sangat berguna bagi mereka untuk melakukan kontak mata baik dengan para guru atau dengan sesama temannya.&lt;br /&gt;Seperti halnya dengan tahap benyanyi bersama, mereka juga mengalami proses tersebut ketika bernyanyi perorangan. Bahkan ada diantara mereka yang hanya mengeluarkan bunyi seperti orang bersenandung (Hm…hm… atau na… na…) tetapi mereka tetap dalam titinada lagu tersebut.&lt;br /&gt;Dalam hal ini mereka mencoba menggabungkan pengalaman mereka dalam bernyanyi (bermain) bersama kemudian mencobanya untuk bernyanyi senditi. Ketika mereka mencoba mengucapkan bunyi-bunyi tersebut mereka secara spontan melakukan bahasa tubuh/gerakan tubuh. Untuk lagu ini gerakan hanya pada kata “hap” sambil melompat dengan tangan terbuka ke depan kemudian mengepalkan seperti sedang menangkap sesuatu.&lt;br /&gt;Prosses yang sama juga terjadi ketika menyanyikan lagu balon ku ada lima.&lt;br /&gt;Balonku Ada Lima&lt;br /&gt;Balonku ada lima&lt;br /&gt;Rupa-rupa warnanya&lt;br /&gt;Hijau kuning kelabu&lt;br /&gt;Merah muda dan biru&lt;br /&gt;Meletus balon hijau&lt;br /&gt;Dor, hati ku sangat kacau&lt;br /&gt;Balonku tinggal empat&lt;br /&gt;Ku pegang erat-erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujaran pertama yang keluar adalah “dor”. Selanjutnya mengalami proses yang sama seperti lagu Ciak-cicak di Dinding. Hanya saja berbeda dalam gerak tubuh. Ketika menyatakan lima mereka mengacungkan jari lima (satu tangan dengan telapak tangan terbuka), lalu ketika dor, mereka melompat sambil menutup telinga atau ada juga yang melompat sambil mengepalkan kedua tangan ke atas lalumembuka telapak tangan. Kemudian pada kata empat mereka mengajungkan jari empat, ada yang hanya dengan satu tangan dengan jari jempol ditekuk kedalam dan ada yang melakukannya dengan dua tangan dengan posisi jari yang sama. Meskipun gerak tubuh ini tidak termasuk dalam sumber data tetapi sangat membantu ujaran mereka. Karena kebahagian seorang anak adalah dengan benyanyi, menari, bertepuk tangan dan berteriak apalagi dilakukan secara bersama-sama.&lt;br /&gt;Lain halnya ketika menyanyikan lagu Topi Saya Bundar, pengalaman menyanyikan lagu ini sangat berbeda dengan lagu yang telah dibahas.&lt;br /&gt;Topi Saya Bundar&lt;br /&gt;Topi saya bundar&lt;br /&gt;Bundar topi saya&lt;br /&gt;Kalau tidak bundar&lt;br /&gt;Bukan topi saya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu ini lebih mudah untuk dipahami oleh anak-anak penderita autis dalam perolehan kata sekaligus makna kata. Lagu ini diberikan sebagai kelanjutan dari dua lagu yang terdahulu. Lirik lagu ini lebih membantu perkembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik mereka, karena hampir seluruh kata-katanya mempunyai gerakan. Dengan lagu ini aspek pertumbuhan bahasa verbal maupun nonverbal pada mereka dapat berkembang lebih baik dan merangsang keterampilan mendengar yang mengantarkan kemampuan berekspresi yang lebih baik dan akan terjalin erat dengan tubuh dan indera mereka. Proses ujaran mereka hampir sama dengan dua lagu pertama.&lt;br /&gt;(Topi) gerakan seperti memegang sesuatu (topi) di kepala. (Saya) meletakkan kedua telapak tangan kedada sebagai ungakapan saya. (Bundar) mereka melakukan gerakan melingkarkan tangan di depan kepala . Kemudian melakukan gerakan yang sama dengan susunan yang berbeda untuk bait berikutnya “Bundar topi saya”. (Kalau tidak) melambaikan tangan dan menggelengkan kepala seperti mengisyaratkan tidak. (Bundar) kembali melakukan gerakan melingkarkan tangan di depan kepala. (Bukan) mengulang gerakan melambaikan tangan dan menggelengkan kepala seperti mengisyaratkan tidak. (Topi saya) melakukan kembali gerakan mengulang.&lt;br /&gt;Selain dengan lagu berbahasa Indonesia, kegiatan bernyanyi ini juga sengaja memilihkan beberapa lagu berbahasa Inggris. Meskipun untuk berbahasa Indonesia mereka mengalami kesulitan, tetapi untuk kebutuhan penelitian diberikan juga lagu berbahasa Inggris dan unutk memberikan fariasi.&lt;br /&gt;COCONUT&lt;br /&gt;C-O-C-O-N-U-T N-U-T N-U-T&lt;br /&gt;C-O-C-O-N-U-T N-U-T&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu ini hanya menyebutan lima macam huruf yang berbeda yaitu C (si) O (ou) N (en) U (yu) T (ti). Semua huruf terdiri dari satu suku kata. Anak-anak penderita utis lebih cepat memahami lagu ini karena semua huruf terdiri dari satu suku kata. Selain itu, sama seperti lagu Topi Saya Bundar, setiap huruf dalam lagu ini mempunyai gerakan. Gerakan tersebut seperti gerakan senam. C, anak-anak dengan bantuan guru akan membuat huruf seperti huruf C, dan seterusnya (akan diperagakan).&lt;br /&gt;Lagu berbahasa Inggris kedua yang diujikan adalah lagu Good Morning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Good Morning&lt;br /&gt;Good morning, good morning&lt;br /&gt;To you to you and to you.&lt;br /&gt;Good morning, good morning&lt;br /&gt;To you and to you&lt;br /&gt;Amin, Agung and Ery&lt;br /&gt;Rita, Yuli you and you&lt;br /&gt;Good morning, good morning&lt;br /&gt;To you and to you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti lagu-lagu dalam pembahasan terdahulu, lagu ini akan membantu dalam proses pemerolehan kosa kata pada anak. Pada lagu ini ada beberapa orang nama yang disebutkan. Nama-nama itu bisa disesuaikan/diganti sesuai dengan kebutuhan. Pada lagu ini sebenarnya tidak ada gerakan, tetapi membantu dalam mengenali nama-nama teman-teman mereka.&lt;br /&gt;Dari lagu-lagu dengan dua versi bahasa yang berbeda ternyata pada anak-anak penderita autis memiliki tingkat kesulitan yang sama dalam memahaminya. Anak-anak penderita autis adalah anak yang mengalami kesulitan dalam berbicara, sehingga hampir keseluruhan kosa kata yang diberikan dalam dua bahasa yang berbeda adalah kosa kata yang baru/asing bagi mereka.&lt;br /&gt;Ketika proses pengenalan kata berlangsung lewat pelajaran bernyanyi, kecendrungan anak-anak ini adalah lebih menurutkan emosi mereka. Terkadang mereka memilih ujaran-ujran yang tidak bisa diperkirakan dengan kesimpulan umum. Terkadang mereka mengucapkan dengan tekanan suara/intonasi yang lebih keras, kadang intonasi yang lebih panjang.&lt;br /&gt;Ada kecendurungan yang sangat positif, bahwa ternyata anak-anak ini tidak hanya memahami lagu tetapi juga memahami titinada yang ada. Mereka bisa memngetahui lagu yang akan dinyanyikan melalui intro lagu, dan mereka juga memahami kapan harus memulai untuk bernyanyi.&lt;br /&gt;Kelemahan yang terjadi adalah bahwa anak-anak penderita autime pada waktu tertentu mereka bisa menghafalkan lagu dan gerakannya, tetapi tidak semua makna dari kata yang diucapkannya dapat dipahami sebaik mereka mengucapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Penutup&lt;br /&gt;Pemerolehan bahasa pada anak-anak penderita autis sangat berbeda dengan pemerolehan bahasa pada anak-anak normal. Anak-anak normal biasanya secara alami dan melalui lingkungan akan mengalami proses pemerolehan bahasa yang tidak rumit. Artiya mereka mendapatkan kosa kata mereka secara alami/normal degan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Sementara itu anak-anak penderita autis mengalami kesulitan yang sekaligus merupakan suatu kendala yang datang dari dalam diri mereka sendiri. Ada sedikit persamaan dalam proses pemerolehan bahasa antara anak-anak normal dengan anak-anak penderita autis, hanya saja pada anak-anak normal mereka telah memulai pemerolehan ujaran pertama mereka pada usia yang bulanan. Sementara itu pada anak-anak penderita autism proses itu baru mulai setelah usia mereka mencapai setahun atau lebih, bergantung dengan sedini apa kelainan mereka diketahui oleh orang tuanya.&lt;br /&gt;Dengan memfokuskan kelas pada kegiatan siswa maka pelajaran bernyanyi dapat mempeloleh hasil yang optimal. Pendekatan kontekstual mengantarkan anak belajar melalui pengalaman mereka dalam prosses belajar. Guru hanya mendampingi mereka sesuai dengan tahapan kebutuhan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;__________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Campbell, Don. 2002. Efek Mozart bagi Anak-anak. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. (Diindonesiakan oleh Alex Tri Kantjono Widodo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dardjowidjojo, Soenjono. 2000. Echa Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia. Jakarta: Grasindo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_____________. 2003. Psikolinguistik. Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depdiknas. 2003. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handojo,Y.2006. Autisma. Petunjuk Praktis dan Pedoman Materi Mengajar Anak Normal, Autis, dan Prilaku lain. Jakarta, Bhuana Ilmu Populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putra Kembara .2006. Seputar Autisma. Jakarta. peduliautis@putrakembara.org&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;… 2000. Menciptakan Kelas yang Berpusat pada Anak . Jakarta. Children’s Resources International. Inc. ( Alih Bahasa : Kenny Dewi Juwita, dkk.)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8116568878883160549-652569894719171161?l=sulfialhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sulfialhamdi.blogspot.com/feeds/652569894719171161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8116568878883160549&amp;postID=652569894719171161' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116568878883160549/posts/default/652569894719171161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116568878883160549/posts/default/652569894719171161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sulfialhamdi.blogspot.com/2008/03/bahasa-dan-anak-autis.html' title='Bahasa dan Anak Autis'/><author><name>Sulfi Alhamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05320416413072617215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QYxieORgQf0/SGnDUrgJiTI/AAAAAAAAAAs/TI_PTLZOp6Q/S220/IMG_6690.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
